BUAT APA?

Maaf Bro, Saya rela menempuh ribuan kilometer hanya untuk motret Sunset dan Sunrise. Saya lebih memilih tinggal dipelosok negeri ini berbulan2 bersama penduduknya hanya untuk mendalami karakter mereka. Kita berbeda, Maaf.” -Jack Firman-

Kira-kira status yang bikin pagi hari saya diisi dengan kalimat-kalimat acak buat ngomentarin status diatas. Sebenarnya hampir sama, kegiatan outdoor yang saya suka selain travelling bareng temen juga, ya hampir mirip-mirip dengan teman saya yang domisilinya di luar Pulau Jawa ini.

Yap, saya pun begitu, rela menempuh ratusan kilometer hanya untuk menyusur satu jalur/jalan penghubung antar kota, kecamatan, kabupaten, bahkan antar desa. Buat apa? pada awalnya sih & sudah turunan kayanya, hanya penasaran saja, ini jalannya bisa tembus kemana ya? daerah “A” itu dimana ya? ada apa ya didaerah “A”, seperti apa ya daerah “A”? dan lain-lain yang akhirnya berujung pada nyungsepnya saya di jalur penghubung yang lokasinya antah berantah atau tiba-tiba nongol di tempat yang jaraknya lebih dari 100 Km dari Kota Bandung, dan lain-lain

Ya, dari rasa penasaran tadi, akhirnya berujung dengan menyusuri jalur tersebut dan cukup dibuat syok dengan kondisi jalannya yang seringnya luar binasa, view landscape yang bikin berdecak kagum, suasananya yang sukses bikin saya lupa hari-tanggal-jam-beban kerjaan, pola kehidupan masyarakatnya yang berbeda jauh dari tempat asal saya yang tidak akan saya temui hanya dengan berdiam diri di kota, jalan-jalan ke mall, nongkrong ga jelas di cafe-cafe, atau hanya sebatas informasi dari browsing dan cerita teman.

Mungkin browsing dan cerita dari teman pun, perlu suatu niat, karena, kalau memang tidak tertarik dengan hal-hal yang berbau eksplore, petualangan, dan kegiatan outdoor lainnya pun, obrolan akan kecil kemungkinannya untuk sampai di tahap membahas suatu lokasi lengkap dengan segala bahan obrolannya.

Beberapa teman saya yang sesama penyuka kegiatan outdoor pun masih banyak yang bertanya dan heran, buat apa sih sampai repot-repot, susah-susah dan cape-cape nyusurin 1 jalur yang kita sendiri ajah ga tau diujung atau ditengah jalur itu ada objek apa yang bisa dikunjungi. Saya juga jadi berfikir ulang, kenapa juga saya sebegitu penasarannya sama jalur-jalur yang belum pernah saya lewatin?

Setelah dipikir-pikir, ya kalau mau ambil jalan cepatnya sih, saya ingat pepatah yang berbunyi “tidak ada satu kegiatan pun yang dilakukan hanya sia-sia belaka” yaa, mungkin sekarang hal yang saya lakukan itu kesannya sia-sia & hanya dapat cape saja, tapi mungkin suatu saat nanti malah jadi aset atau bisa juga tidak, bisa saja hanya sebatas untuk memperkaya pengetahuan pibadi dan untuk kepentingan pribadi saja tanpa mampu dikembangkan lebih luas lagi. Tapi, tidak apa-apalah, setidaknya tidak merugikan orang lain dan bukan juga tindakan kriminal meresahkan masyarakat.

Dari beberapa kali mencoba “Ngaprak Jalur” sebutan yang saya berikan untuk kegiatan ajaib saya yang 1 ini (seperti sudah dijelaskan versi lainnya di tulisan sebelumnya), ada beberapa hal yang saya dapat dan langsung dianalisis secara otomatis dan sederhana oleh otak saya sendiri (oke, sepertinya pekerjaan berkutat dengan laporan selama hampir 3 tahun ini mulai terasa efek sampingnya). Mulai menganalisa lokasi awal saya dengan lokasi akhir dari jalur ini sebenarnya bagian dari jalan apa? tanggung jawab siapa? kenapa bisa sampai se-hancur ini? kenapa tidak ada tindakan perbaikan dari pemerintah? seandainya kebijakannya adalah tidak ada perbaikan jalan, apa dampaknya? apa manfaatnya kalau jalan ini diperbaiki atau tidak? bagaimana bisa warganya bisa tahan dengan kondisi jalan yang sedemikian rupa? bagaimana kondisi jalannya pada malam hari? bagaimana masyarakatnya berinteraksi secara langsung ketika hari sudah gelap? -karena tidak jarang 1 desa pun rumahnya dipisahkan oleh hutan, bukit, kebun, atau ladang yang tidak ada penerangan sama sekali-, bagaimana dengan aksesibilitas ketika ada suatu hal yang darurat? apa pernah masyarakat di tempat ini (secara umum, tidak hanya yang tergolong usia produktif saja) “keluar” dari wilayah ini? Bagaimana mereka menghabiskan saat-saat senggang mereka dengan hanya berada di tempat yang sama seperti saat-saat mereka kerja dengan fasilitas yang seadanya dan teknologi yang tidak dapat menjangkau wilayah mereka?

Semua pertanyaan saya -mungkin juga sebagiannya saja- terjawab saat sudah selesai/sampai pada ujung jalur secara langsung. Mungkin jawaban yang saya dapat masih berdasarkan terkaan pribadi saja. Pada saat melewati jalur tersebut, saya membayangkan kalau saya sedang lewat disitu karena saya warga di wilayah itu dan harus ke kota besar terdekat/ibukota Kabupaten/Provinsi karena ada 1 hal yang harus diurus. Membayangkan dan memposisikan diri saja untuk sampai di Ibukota Kabupaten saja rasanya sudah “cukup sekali saja saya lewat sini”, bagaimana dengan mereka?

1016997_10200624287986027_197407553_n

Ya, setidaknya saya rela untuk menempuh ratusan kilometer jalan rusak bahkan putus, hanya untuk mengetahui bahwa diantara megahnya pembangunan infrastruktur jalan, jembatan, dan juga sarana berbentuk bangunan di kota-kota besar, masih banyak saudara-saudara kita yang terlupakan haknya untuk menikmati megahnya dan canggihnya teknologi pembangunan infrastruktur (terutama jalan dan jembatan), serta masih lupanya kita akan tujuan menuntut ilmu dan mengembangkan bakat & kemampuan kita dari hasil belajar bertahun-tahun untuk membangun dan membantu saudara-saudara kita yang tinggalnya jauuuuh ratusan kilometer dari kota metropolitan dengan segala kemegahan dan kecanggihan teknologinya.

Ratusan kilometer yang saya tempuh melewati jalan hancur, keluar-masuk hutan, naik-turun bukit, nyebrang sungai, menyisir punggungan pegunungan dan deretan perbukitan setidaknya membuat saya berfikir ulang, bagaimana saya bisa menjadi “seseorang/orang” yang bisa memanfaatkan ilmu yang saya miliki untuk membantu mereka, setidaknya dari hal kecil yang saya sendiri bisa lakukan, dan juga bersyukur atas apa yang saya miliki dan dapatkan sekarang meskipun tidak seberapa.

HANYA NGOCEH, KALAU GA NYAMBUNG ATAU ANEH, ABAIKAN. NAMANYA JUGA NGOCEH

Advertisements

6 thoughts on “BUAT APA?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s