SO I ASK MYSELF

Ketika kebanyakan teman saya yang perempuan berdandan secantik dan semenarik mungkin lalu meng-upload fotonya sedang berada di suatu tempat makan (oke, Cafe biar keren) atau tempat wisata outdoor buatan yang ditata sedemikian rupa, Saya 2 hari kemudian meng-upload foto yang diambil pada tanggal yang sama, dengan muka kucel, baju kotor belepotan lumpur atau pasir, mata merah, rambut lepek, dan backgroundnya? saya anjurkan untuk sambil melihat peta ketika saya sebutkan nama daerahnya

Ketika kebanyakan dari teman-teman saya browsing mengenai tempat nongkrong atau tempat makan apa yang baru dibuka atau yang sedang hits saat ini Saya sibuk men-zoom in-zoom itu dan menggeser-geser kesana-kemari kursor untuk memperjelas kontur dan mencari sebuah legenda yang bernama “danau”

Ketika kebanyakan dari teman saya sibuk mengeluhkan macet dimana-mana, Saya tertawa ga jelas karena menyusuri jalan yang sama sekali tidak ada siapapun kecuali saya (dan teman-teman yang ikut serta dengan saya)

Ketika kebanyakan teman saya sibuk mencari “jalan tikus” untuk keluar dari jalan utama yang super macet, Saya sibuk mencari jalur di GPS Handpone seadanya untuk menemukan kembali jalur utama yang merupakan Jalan Provinsi untuk keluar dari areal perkebunan ditengah-tengah perbukitan terjal dengan jurang di kanan-kiri yang bisa membuat kita kagum sekaligus ngeri.

Ketika kebanyakan teman saya hampir menjerit histeris karena kemacetan dan kesemrawutan jalanan kota metropolitan, Saya tertawa lepas menertawakan kebodohoan dan rasa puas setelah berhasil melewati rintangan alam berupa jalan hancur, genangan lumpur, salah ambil jalan, melipir jurang, turun dari motor karena sang motor tidak kuat nanjak

Ketika kebanyakan teman saya tiba di rumahnya dengan tetap terlihat cantik, menarik, dan harum, Saya tiba dirumah dengan rasa pegal diseluruh badan, bau tujuh rupa, make-up alami lumpur, pasir, debu, asap knalpot truk tapi sama-sama dengan perasaan senang dan puas

Ketika kebanyakan teman saya sibuk merencanakan kencan romantis dengan sang pacar, Saya, menjadi navigator sekaligus radio otomatis ketika sang pacar mulai mengantuk atau tiba-tiba kami salah mengambil jalur *sense of navigating si pacar tidak cukup membantu kalau nyasar, jadilah harus kerja ekstra untuk nemuin jalur hikz

Ketika kebanyakan teman saya selalu merasa waspada terhadap orang asing, copet, penjahat yang suka menghipnotis di tengah-tengah keramaian Kota Metropolitan, Saya, terkagum-kagum dan terharu karena dengan mudahnya ditawari untuk sekedar singgah beristirahat atau bahkan menginap di rumah salah satu penduduk yang kami temui yang jaraknya beratus-ratus kilometer dari rumah, karena merasa percaya kami semua bukan orang jahat, tidak percaya, heran, geli, kasian dengan segelintir anak muda “kurang kerjaan” yang rela datang beratus-ratus kilometer (plus nyasar dan kekonyolan selama melewati jalan yang hancur dan medan yag sulit) hanya karena penasaran dengan salah satu gejala alam yang ada di tempat mereka dan bukan merupakan hal yang istimewa untuk mereka.

Ketika kebanyakan teman saya merasa bangga mengendarai kendaraan terbaru ataupun mencoba hasil modifikasi barunya, Saya, hanya berfikir apakah kondisi motor yang bukan terbilang baru dan sudah pernah diganti onderdilnya karena memang sudah waktunya ganti bisa sekali lagi melewati jalanan yang seperti dasar sungai dengan jarak terkadang lebih dari 200 Km?

Ketika kebanyakan teman saya sibuk bertukar cerita tentang film terbaru, gosip terbaru dari artis-artis papan atas bahkan kabar selingan tentang teman-teman yang lain, Saya, sibuk memberi arahan jalur mana yang harus ditempuh, tempat-tempat apa saja yang sebaiknya didatangi, waktu yang tepat untuk mendatangi suatu objek wisata alam, terkadang menjadi ‘kompas’ untuk beberapa yang nyasar

Terkadang, saya pun merasa sedikit minder, ketika melihat hasil foto yang sudah saya upload dengan foto teman-teman saya. Rasanya jauh seperti langit dan bumi. Mereka terlihat cantik dengan make-up, anggun dengan pakaian dengan model terkini dan elegan karena lokasi pengambilan foto berada di tempat wisata kuliner ataupun tempat rekreasi keluarga yang ditata dengan konsep tertentu.

Tapi , saya juga bersyukur, meskipun kendaraan yang saya punya hanya motor keluaran beberapa tahun yang lalu, bahkan sudah sempat mengalami “masa tuanya” yang pertama dan bukan motor sport ataupun trail, apalagi Moge, tidak memiliki mobil sport mewah mengkilat dan ekslusif (karena tempat duduknya hanya ada 2), ataupun motor-motor besar yang sporty, tetapi si motor ini sudah terbukit kuat dan mampu mengantar saya ke tempat-tempat antah-berantah yang saya cari dan pulang dengan selamat sampai kembali ke rumah (I Love My Motorcycle, Thank You soo much Dad)

Terkadang ada pertanyaan juga, apa saya ini aneh? apa teman saya yang tidak se-hobi malu berteman dengan saya? apakah keluarga saya merasa risih dengan penampilan saya (yang sehari-hari pun tidak pernah menyentuh make up dan terkesan tomboi), dan apakah pacar saya merasa minder karena punya pacar yang sudah tidak cantik, punya kebiasaan, hobi, dan karakter yang tidak seperti kebanyakan pacar-pacar temannya?

Ah, tapi apapun pendapat orang lain, dan terkadang saya merasa sedikit minder dan aneh juga, tapi saya bersyukur diberi saya seperti apa adanya saya sekarang ini.

“Follow your heart, be yourself, keep on going with your life, still care with others, be nice to everyone”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s