CIEMAS DAN GEOPARK CILETUH

upload-1

Part 1: Menemukan dan Mencari Kembali Ciemas.

 Berhubung banyak banget dimana-mana yang nanya dan pengen ke Ciletuh, jadi keingetan cerita saya tentang tempat ini. Sedikit bernostalgia. Untuk saya pribadi, karena dari awal yang saya kenal adalah Ciemas, jadi kalau menyebut “Ciletuh” kayanya ada yang kurang pas gimanaa gitu. Cerita saya dengan tempat ini dimulai jauuuh sebelum nama “Ciletuh” muncul dan terkenal.

upload-2

 MARET-DESEMBER 2009

Pertama kali denger nama Kecamatan Ciemas -yang ternyata adalah hasil pemekaran dari Kecamatan Simpenan- yaitu dari mata kuliah yang dulu bernama “Studio”. Kebetulan, nama Kecamatan Ciemas lumayan sering muncul di hasil analisis dan rekomendasi dari beberapa tim. Salah satunya adalah dalam aspek pengembangan pariwisata andalan skala nasional dan internasional.

upload-3

 SEPTEMBER 2011

Iseng searching tempat-tempat baru untuk jalan sama temen dan tiba-tiba keingetan Kecamatan Ciemas di Kabupaten Sukabumi. Liat di peta emang kecamatan ini jauh lebih luas dari kecamatan-kecamatan lainnya, dan berbatasan sama laut, jadi penasaran kenapa ga pernah ada info lokasi wisata yang muncul. Letaknya juga diantara Palabuhanratu (bukan Pelabuhan Ratu ya nulisnya yg bener) dan kawasan wisata Ujunggenteng (ini juga bukan Ujung Genteng ya penulisan yang benernya). Kami pun dapat satu gambar air terjun yang cukup besar dengan pemandangan sawah dan laut. Kami sempet ragu, bahkan sampe cek berkali-kali, jangan-jangan itu bukan di Indonesia, apalagi Ciemas yang namanya aja asing banget. Setelah cek berkali-kali dan dapet link info yang pada tahun ini masih jarang banget, ternyata bener foto yang kami lihat itu di Kecamatan Ciemas.

upload-4

 FEBRUARI – MARET 2012

Setelah kenalan dengan beberapa temen yang juga hobi traveling di Bandung (dulu, masih jarang dapet temen dari Bandung, maklum baru pertama kali kenal dunia traveling) terkumpulah beberapa temen yang setuju untuk nyari air terjun yang ga sengaja saya dan temen saya dapet tahun lalu. Tugas kami pertama adalah nyari jalur dari Bandung sampe ke Ciemas. Dapet dua jalur utama, yaitu yang searah kaya ke Ujunggenteng (via Lengkong dan Jampang Tengah) sama yang searah Palabuhanratu (via Simpenan dan Kiaradua). Setelah cek, ternyata di peta untuk jalur via Palabuhanratu-Kiaradua banyak banget percabangan jalannya, akhirnya kami mutusin nyoba nyusur jalur Jampang Tengah. Temen saya yang lain malah dapet informasi lain tentang spot-spot lainnya selain air terjun yang saya dapet. Makin bingunglah kami, karena buta arah, nama spotnya pun masih meragukan, dan ga tau posisi spotnya itu di sebelah mana. Sampe mendekati hari H akhirnya diputusin untuk pake mobil offroad sekaligus nganter mereka nyari lokasi untuk acara offroad awal Mei 2012 nanti.

upload-5

 12 – 13 MARET 2012

Berkat info dari Kang Dedi, kenalan temen saya di sosial media, kami dapet lumayan banyak info buat bekel perjalanan kami meskipun buat 7 orang kaya kami yang baru pertama jalan ke daerah sana sih masih sedikit membingungkan. Perjalanan dimulai dengan macet di Bandung dan Padalarang ditambah salah jalan keluar dari Kota Sukabumi ke Kecamatan Lengkong. Kebingungan mulai muncul di perbatasan Kecamatan Lengkong – Kecamatan Waluran, karena di titik ini kami harus ambil jalan kecil ke arah Kecamatan Ciemas. Setelah berhasil masuk ke jalur menuju Kecamatan Ciemas, bukannya makin jelas jalurnya, tapi makin membingungkan. Kami jalan malam dengan kondisi jalan rusak parah, sering tekor karena papasan ama truk pengangkut kayu dan sepanjang jalan adalah perkebunan karet, gelap parah. Kebingungan kami ditambah dengan pertigaan tepat di tengah kebun karet tanpa papan penunjuk arah. Berhubung sedikit lupa arahan pak polisi di Kecamatan Lengkong yang kami tanya, kami pun lurus. Di tengah jalan yang lumayan mulus dan mulai ada permukiman penduduk, mendadak saya dan temen besernya kumat ditambah dengan mesin mobil yang sedikit bermasalah. Perjalanan pun terhenti kembali. Dengan modal numpang ke toilet rumah warga yang ga jauh di belakangnya adalah kandang sapi yang lagi pada ngegosip, cape dan ngantuk pun hilang. Usut punya usut, setelah ngobrol sama warga yang punya rumah, ternyata kami salah jalan. Harusnya kami ambil jalan ke kanan di pertigaan sebelumnya, kalau ikut jalan ini tembusnya Ujunggenteng yang entah bagian sebelah mana Ujunggenteng.

upload-6

1 jam kami nunggu supaya mobil bisa stabil lagi dan kami puter arah. Jangan harap perjalanan kami jadi mudah, malah ini adalah rute tersulit dan paling membingungkan untuk kami. Sekitar jam 21.00 kami sampai di depan Terminal Ciemas. Jangan bayangkan Terminal Cicaheum apalagi Kampungrambutan, di Terminal Ciemas ini sepi, ga ada satu orang pun kecuali dua mobil kami. Yah, kami sampai di Kecamatan Ciemas tapi kami ga tau posisi kami dimana dan ga tau arah yang harus kami ambil untuk ke tempat tujuan sampai akhirnya kami liat papan penunjuk menuju Polsek Ciemas. Kantor polisi yang kami cari ga ketemu. kami pun setidaknya sampai harus 3x puter arah sampai akhirnya ketemu warga yang (akhirnya tahu) tujuan kami. Kami sebutin semua mulai dari Ciletuh, Curug Cimarinjung, sampai akhirnya nama Pantai Palangpanglah yang dikenal sama warga.

upload-7

Ujian terakhir kami adalah jalan super rusak, turunan curam, tikungan tajam, malah harus sedikit tekor karena ngalah sama truk yang ga kuat nanjak. Suasana sepi, gelap, di kanan-kiri gelap gulita, artinya permukiman penduduk cukup jauh. Jangan tanya berapa kali mobil kami menghantam lubang dalam. Setidaknya kami melewati dua persimpangan jalan dan kami pilih jalur mengikuti feeling yang untungnya benar. Ketika kami lihat gapura Pantai Palangpang dan kantor Desa Ciwaru tepat pukul 23.00 hilang sudah galau. Penemuan kami paling “wow” sepanjang hari ini adalah Indomart tepat di samping kantor Desa Ciwaru dan masih buka! Berbekal informasi dari pegawai Indomart, kami mencari penginapan milik Pak Haji di Pantai Palangpang yang katanya satu-satunya. Sayang, ternyata penginapan itu memang satu-satunya dan belum resmi dibuka jadi belum ada harga yang ditetapkan dan penjaganya ga berani kasih harga ke kami. Setelah mencari tempat yang cocok untuk buka tenda yang akhirnya gagal total, kami pun diijinkan untuk istirahat di depan penginapan.

upload-8

 Jangan bayangkan kawasannya seperti di pinggir Pantai Pangandaran. Di sini hanya hamparan kebun dan lapangan kosong dengan sapi dan anjing liar berkeliaran dan hanya ada satu penginapan dan satu bangunan yang sepertinya kalau malam tidak ada orang tepat di pinggir pantai. Mungkin karena kasihan, kami pun diberi 1 kamar dengan harga patungan terserah kami untuk istirahat, ada yang tidur di saung, ada juga yang tetep buka tenda. Jangan kira perjalanan kami 1 hari ini sudah selesai. Kami baru bisa istirahat jam 02.00 tepat 13 jam dari jam awal kami pergi dari Bandung dan jam 03.00 kami yang tidur di dalam kamar dibangunkan oleh beberapa teman yang tidur di tenda. Ternyata di luar ujan badai. Anginnya sampe bikin tenda mau terbang, suara petir udah kaya sound system konser, air ujan pun ga mau kalah, suara jatuhan airnya di atap bikin peka telinga. Yah, lengkap sudah. Untung kami ga nekat nenda tidur di pinggir pantai.

upload-9

Hari berikutnya, pagi-pagi sekali sudah disambut dengan hujan deras yang kembali turun, seakan belum tuntas melampiaskannya subuh tadi. Kami baru bisa keluar dari kamar penginapan sekitar jam 09.00 dan ketika kami tiba di Pantai Palangpang yang kotor karena kayu akibat hujan semalam dan tadi pagi dengan air pantai yang cokelat pekat, kami melihat seusatu yang menarik di jejeran perbukitan sebelah Utara. Itulah Curug Cimarinjung yang kami cari. Volume airnya yang sangat besar akibat hujan dan airnya yang berwarna cokelat menjadi hal yang ‘ganjil’ diantara hijaunya di perbukitan di sampingnya dan garis pantai di bawahnya. Ya, tempat yang kami lihat di mesin pencarian ternyata nyata, bukan hanya postingan salah informasi belaka.

upload-10

Bergegas, pukul 10.00 setelah urus administrasi, packing dan foto-foto kami menuju Curug Cimarinjung. Kesalahan kami yang paling fatal adalah tidak menanyakan kondisi dan arah menuju Curug Cimainjung pada Kang Ari, penjaga penginapan sekaligus warga Desa Ciwaru. Kami terlalu bersemangat. Akibatnya, setelah jalan menyusuri Pantai Palangpang tiba-tiba berbelok dan Curug Cimarinjung tidak terlihat lagi, kami pun kembali bertanya. Jalan yang harus kami lalui ternyata jalan kecil penuh lumpur tepat di tikungan. Dengan kemampuan menyetir mobil offroad teman-teman kami yang offroader ini, sampailah kami di sebuah jalan yang bahkan kami pun ga yakin sebenernya ini jalan atau pematang sawah. Kami pun turun dari mobil dan pemandangan di depan kami sama persis seperti yang kami lihat di foto. Hamparan sawah yang luas dan hijau serta Curug Cimarinjung dengan volume airnya yang gagah seakan membuat kami lupa betapa tidak normalnya jalan yang sedang kami lalui.

upload-11

Puas mengabadikan moment, kami pun menuju Puncak Darma sekaligus mampir ke Curug Cimarinjug. Sayangnya, kali ini kami tidak menemukan jalur mendekati Curug Cimarinjung karena semakin mendekati bukit, Curug Cimarinjung semakin menghilang dari pandangan. Mungkin nanti saja sepulang dari Puncak Darma kami mampir. Kali ini perjalanan kami semakin sulit, lumpur yang dalamnya hampir menelan ban mobil serta tanjakan dengan batu-batu tajam dan besar tertutup lumpur menghambat laju kendaraan kami. Satu mobil dinyatakan tidak bisa meneruskan perjalanan setelah bagian bawahnya menghantam batu cukup keras sehingga ada kerusakan. Mobil satunya hanya berhasil sampai pertigaan di punggungan bukit dan harus terhenti karena slip dan lumpur yang semakin tinggi dan sulit dilalui. Kami pun stuck di rumah satu-satunya warga yang katanya merupakan warga pertama yang tinggal di daerah sini hingga pukul 15.00. Makan siang, mengobrol ringan sambil menunggu mobil selesai diperbaiki cukup menggantikan tujuan awal kami ke Puncak Darma dan Curug Cimarinjung.

upload-12

Sore hari, saat matahari bersiap pulang dan menghilang di horizon, kami pun bersiap pulang ke Bandung. Benar-benar suatu perjalanan panjang, karena mobil yang rusak ini akhirnya harus ditarik oleh mobil satunya. Salut sama dua teman saya yang sukses menempuh perjalanan 12 jam kembali menuju Bandung dengan diiringi hujan deras beberapa kali, kabut tebal, temperatur udara yang semakin menurun, jarak tempuh lebih dari 100 Km, makan yang sangat ga kekontrol, tidur yang sangat kurang. Akhirnya perjalanan kami selesai jam 03.30 setelah sempet ganti mobil dulu di daerah Cimahi. Ciemas, masih banyak menyisakan banyak PR untuk saya pribadi.

upload-13

27 APRIL 2013

Satu tahun lebih dari pengalaman pertama saya ke Ciemas dan seiring waktu, mulai muncul sedikit demi sedikit informasi tambahan mengenai Ciemas. Salah satunya informasi yang cukup penting dan banyak dari Kang Dedi dan temen-temen lainnya di Sukabumi. Akhirnya, karena penasaran sama jalur yang lewat Palabuhanratu dan memang ada rencana untuk touring dua minggu lagi bareng beberapa teman, saya pun mencoba mengajak teman saya yang kebeneran belum lama tinggal di Bandung dan punya hobi yang sama yaitu suka nyusur jalan. Kali ini karena hanya menyusur survey jalur dan hanya berdua, kami coba pergi dengan menggunakan mobil mini bus biasa bukan mobil offroad seperti satu tahun sebelumnya. Perjalanan kami mulai dari pukul 05.00. Perjalanan kami dapat dibilang cukup lancar, bahkan kami sempatt mampir ke Pantai di Desa Loji yang mempunyai kuil di atas tebing menghadap Teluk Palabuhanratu. Sekitar pukul 13.00 kami meneruskan perjalanan menuju Pal Tilu melalui Cihaur yang sepanjang jalannya menyusuri tepi bukit dengan pemandangan Teluk Palabuhanratu, jalan dengan aspal yang sudah mengelupas, lembah Cimandiri dan jejeran pegunungan terjal, serta tidak ketinggalan dinding tebing yang longsor dah hampir longsor. Jalan sangat sepi, sempit, dan medan bervariasi. Sampai di Kecamatan Kiaradua yang ditandai dengan mulai adanya perkebunan teh, hujan lebat turun. Kami tiba di Pal Tilu, sebuah pertigaan yang menuju Kecamatan Kiaradua dan Kecamatan Waluran di Selatan dengan jalur masuk ke Desa Ciemas menuju Perkebunan Teh Bojongasih.

upload-14

Memasuki jalur Pal Tilu – Desa Ciemas cuaca kembali membaik, bahkan cerah. Sempat khawatir sekaligus penasaran akhirnya bisa juga sampai di jalur lainnya menuju Ciemas. Setelah melewati perkebunan teh dan karet yang hampir jarang ditemui permukiman, kami tiba di satu tempat yang di kanan dan kirinya perbukitan yang masih termasuk ke dalam kawasan hutan produksi dan lahan perkebunan yang di sore yang cerah ini lebih mirip ‘Bukit Teletubbies’. Inilah Desa Ciemas. Kami bahkan sempat berhenti untuk foto-foto dan mengobrol dengan warga yang kebetulan lewat. Menurut Ibu ini, jalur kami sudah benar dan sekitar 2 jam lagi kalau lancar kami bisa sampai di Desa Tamanjaya yang kebetulan memang tujuan kami untuk perjalanan kali ini. Perjalanan menuju Desa Tamanjaya hanya memakan waktu seitar 1 jam (kami mulai jalan dari Desa Ciemas sekitar 15.00) dengan kondisi jalan yang cukup rusak terutama di area perkebunan karet (Pasirangin) hingga areal perbukitan kosong di Kp. Sanggarawa Desa Mekarjaya. Lahan perbukitan kosong mulai digantikan dengan ilalang yang tingginya melebihi tinggi mobil dengan jalan yang sepenuhnya digenangi air setinggi setengah roda mobil ukuran minibus sekitar 3 Km. Setelah melewati jalur ini, kami akan menemukan patokan yang cukup mencolok yaitu kincir angin raksasa. Kincir angin raksasa ini menghadap Teluk Ciletuh. Kami benar-benar beruntung tiba di jalur ini pada sore yang cerah seperti sekarang. Kincir angin tersebut merupakan penanda bahwa kami telah memasuki area Desa Tamanjaya. Akhirnya kami sampai di titik pertigaan dari jalur yang saya lalui tahun lalu. Akhirnya kami berbelok ke arah Polsek Ciemas dan akhirnya kami menemukan tempat yang setahun yang lalu hanya kami lewati karena sudah larut malam dan ketika sore ditutupi kabut. Inilah Bukit Panenjoan.

upload-15

Kami menepi dan menikmati pemandangan sore di Bukit Panenjoan, tapi tidak lama. Akhirnya setelah dipertimbangkan, kami mencoba turun menuju Desa Ciwaru. Pertama, kami melewati kebun kelapa hingga tiba di lokasi setahun yang lalu mobil kami harus sabar menunggu truk yang ga kuat nanjak tengah malam. Kondisinya tidak jauh berbeda, jalannya masih rusak parah, bahkan kali ini tepat sebelum lokasi kami papasan dengan truk setahun yang lalu, tebingnya longsor. Warga berjaga di titik longsor, tidak lupa dengan menimbun tanah akibat longsoran dengan kayu, sekam, dan lainnya agar kendaraan bisa lewat. Tidak sengaja, kami menemukan air terjun yang lokasinya tidak terlalu jauh dari jalan raya. Kami pun menepi dan mendekati air terjun. Ternyata sekeliling air terjun ini diberi pagar pembatas. Aliran air terjun dibagi dua. Pertama yang terus mengalir menuju jurang-jurang dan yang kedua ditampung untuk sumber air minum Kostrad. Kami pun harus cukup puas menikmati air terjun dari balik pagar pembatas. Karena kondisi jalan yang semakin sulit dan waktu yang terbatas, kami pun kembali ke Bukit Panenjoan, menikmati matahari sore hingga menjelang pukul 18.00. Kami memutuskan untuk pulang ke Bandung. Jalur yang kami lewati kali ini merupakan jalur saya ke Ciemas satu tahun yang lalu. Perjalanan cukup lancar, berbeda jauh dengan perjalanan pulang saya dari Ciemas ke Bandung satu tahun yang lalu. Setidaknya survey jalur kami kali ini bisa dibilang sukses. Saya pun tidak khawatir nyasar lagi untuk mengajak teman-teman lainnya touring 2 minggu lagi.

upload-16

upload-17

upload-18upload-20

upload-21

upload-22

upload-23

Advertisements

4 thoughts on “CIEMAS DAN GEOPARK CILETUH

    • Sudah biasa kang kalau lagi jalan keujanan, ketemu jalan batu dan lumpur, nyasar sampe ketemu jalan buntu mah dan dibawa fun juga sama temen-temen seperjalanan, jadi ga terlalu dirasa sengsaranya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s