TRIP TAMBAL BAN SAMPAI CURUG CIRAJEG 3 MARET 2015

Nama Curug Cirajeg pertama kali didapat November 2014 dari teman-teman Komunitas Backpacker Sukabumi. Setelah berhasil mencari dan mengunjungi Curug Ciruti, barulah dapet Curug Cirajeg sama sedikit infonya, padahal kan kalau tahu sebelumnya bisa aja mampir sekalian. Pertama kali liat penampakan Curug Cirajeg, saya langsung tahan nafas saking bagusnya. Ga pake lama, saya pun langsung cari info sebanyak-banyaknya. Info baru cukup setelah ampir satu bulan, tapi nyari temen sama timing yang tepatnya lebih dari satu bulan.

Singkatnya, awal Maret (3 Maret) terkumpullah 6 orang (termasuk saya) untuk berangkat nyari Curug Cirajeg. Seperti biasa janjian ini-itu hanya semalam jadi. Awalnya sih cuman berempat, tapi subuhnya, ada tambahan dua orang lagi,  yang ternyata salah satunya temen saya yang udah lama banget ga ketemu. Rencana janjian sedikit ngaret,  yang harusnya jam 07.00 udah bisa kumpul semua di depan Alun-alun Kota Cimahi, akhirnya baru kumpul jam 08.00 dan berangkat jam 09.00.

Berhubung bukan weekend,  jadi lalu lintas ga terlalu padat. Mulai dari Cimareme sampe lepas Cipatat lancar jaya. Kami sempat berhenti di Cipatat untuk cari spirtus, tapi ga dapet. Sebelumnya,  kami sempat kepencar selepas Padalarang. Dua teman kami ternyata nunggu di Situ Ciburuy,  tapi kami malah bablas. Akhirnya kami pun mutusim buat nunggu di selepas Jembatan Citarum sekalian motor saya juga harus tambah angin ban belakangnya.

Setelah nunggu lumayan lama, akhirnya rombongan kembali lengkap. Jalan selepas jembatan ini udah tinggal lurus dan ga serame sebelumnya. Ada razia di selepas jembatan rel kereta api Rajamandala, untungnya kami ga kena,  jadi bisa sedikit menghemat waktu. Begitu sampai di perempatan menuju jalan by pass Cianjur-Sukabumi, ternyata motor yang lain tidak ada. Kami berdua pun berhenti. Lumayan lama juga berhenti di sini, takutnya teman kami kena razia,  soalnya SIM salah satu teman kami ga ada. Ternyata ban salah satu motor ada yang bocor dan harus ditambal dan posisi mereka ternyata masih belum jauh dari tempat kami berhenti. Setelah ngabarin kalau ada razia di depan biar ga kena berhenti, kami berdua pun lanjut nunggu lagi. Obrolan singkat tentang rencana dan pengalaman travelling masing-masing sampe motor kami yang beberapa kali nyaris diserempet bis (padahal lagi parkir),  sampe akhirnya mati gaya sendiri jadi kegiatan kami selama nunggu dua motor teman kami. Sebenernya saya janjian sama satu orang temen lainnya di SPBU Gekbrong, Cianjur. Teman saya yang satu ini baru pertama kali ketemuan dan jalan bareng. Selama ini hanya kenal di sosmed. Baru juga pertama jalan bareng ngaretnya udah ampir dua jam lebih.

Akhirnya tepat jam 10.00 teman kami yang lainnya pun datang, dan ga pake basa-basi perjalanan kami teruskan. Untungnya lalu lintas menjelang siang itu ga terlalu padet. Kami baru berhenti lagi di SPBU Gekbrong untuk ketemuan sama teman yang dari Cianjur dan langsung jalan lagi,  berhubung jarak perjalanan kami masih cukup jauh. Perjalanan lancar dan sedikit kena macet sepanjang Gekbrong, masuk Sukaraja, dan Baros.

Selepas Baros,  jalan langsung menyempit drastis, berlubang dan bergelombang, medannya pun menanjak terus, lalu lintasnya pun jauh lebih sepi. Baru juga mau memacu kendaraan sedikit lebih cepat di jalur ini, ban motor teman kami kembali bocor. Kali ini lokasinya di tengah kebun, akhirnya beberapa dari kamiundur lgi untuk cek ada tambal ban atau ngga. Untungnya ga jauh dark tempat kami berhenti,  ada bengkel. Tepat ketika motor kami masuk bengkel,  Adzan Dhuhur pun terdengar. Sebenarnya waktu tempuh kami udah banyak ngaretnya. Hitungan awal, kami bisa sampai di Kec. Purabaya sekitar jam 13.00, tapi namanya juga kejadian tak terduga, mau gimana lagi.

Pemilik bengkel bilang,  kalau ban dalem motor temen saya itu udh ga bagus,  jadi mending beli yang baru aja. Berhubung perjalanan kami masih sangat panjang dan aga jarang tukang tambal ban kalau udah sore,  ban dalem pun akhirnya diganti dengan harapan perjalanan kami bakalan lancar. Setelah hampir 30 menit beresin urusan ban motor,  kami pun jalan lagi.

Jalan berlubang dan bergelombang bukan hanya jadi hambatan kami di jalur ini,  lalu lintas yang cukup ramai pun jadi salah satu penghambat perjalanan kami. Bis, ELF, mobil pribadi, dan motor cukup ramai ke arah Sagaranten. Sesekali harus sedikit bersabar untuk menyusul kendaraan di depan. Setelah lewat gerbang masuk Objek Wisata Buni Ayu, kami sedikit melambat dan lagi-lagi hanya motor saya. Sambil berhenti untuk isi bahan bakar, sambil cek hp. Ga ada kabar apa pun dari dua motor di balakang.

Aga lama juga saya sama temen numpang nunggu di tempat isi bahan bakar, bahkan sudah hampir semua kendaraan yang kami salip udah lewat lagi. Sampe akhirnya ada satu kabar dari teman yang di belakang. Harapan ganti ban dalem biar perjalanan lancar pun tinggal harapan. Ban motornya kempes lagi, dan lagi berhenti tambal ban ga jauh setelah gerbang masuk Objek Wisata Gua Buni Ayu. Penjual bensin eceran yang sekaligus pemilik rumah yang kami tumpangi untuk menunggu nanya akan pergi kemana kami. Begitu kami jawab Curug Cirajeg di Purabaya, pemilik rumah pun ternyata tahu,  hanya ga tau lokasi persisnya. Yah, lumayan, berarti kami ga salah jalan dan Curug Cirajeg emang ada.

Setelah 20 menit, akhirnya teman kami pun datang, tanpa basa-basi,  kami pun jalan lagi, dengan harapan bannya ga kempes lagi. Perjalanan dari Kota Sukabumi sampai Purabaya harusnya paling cepat hanya 1 jam dan paling lama harusnya 1,5 jam jadi 2 jam lebih. Kami sampai di SPBU Purabaya tepat pukul 14.00 dan kali ini ban motor teman kami sukses ga kempes lagi.

Sekitar pukul 14.30, kami jalan lagi.  Kali ini kami mencari patokan jalan ke Desa Neglasari. Beberapa kali tanya ke warga dan jawabannya ga meyakinkan,  akhirnya malah ketemu warga yang rumahnya di Desa Neglasari. Sekalian aja kami ikutin bapanya yang katanya rumahnya searah ke Curug Cirajeg. Kami ngikutin bapanya ke Neglasari,  tapi jalan masuknya beda jauh dari patokan kami. Kami sama sekali ga nemu pipa PDAM baru, yang ada hanya kompleks Kodim dan dilanjut sama area kebun dan sawah dengan jalan yang mulai berubah jadi batu.

Kata bapa yang nganter kami, jalan yang kami lewatin ini sedikit lebih pendek dibandingkan patokan kami. Informasi tentang jalan yang ada di patokan kami, katanya cukup mulus,  standar jalan desa dan cukup untuk dilalui mobil, tapi jalan yang kami lewati sekarang memang sekelas jalan desa tapi tidak semulus seperti yang ada di patokan kami. Pada mulanya, jalan melewati tegalan penuh dengan ilalang yang tingginya melebihi orang dewasa. Kemudian jalan menurun menyusuri area sawah yang masih hijau. Ada beberapa titik yang permukaan jalannya berlumpur, tapi sebagian besarnya kering.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s