HONEYMOON TRIP, EKSPLORE NATUNA 4

upload-114

upload-24

Kami sempat isi bensin dulu di Desa Pengadah. Angin kencang, awan hujan, jalanan yang basah karena hujan menjadikan kondisi Pulau Bunguran ini malah mirip seperti di Naringgul hanya minus tening penuh air terjunnya. Di sisi kiri jalan (jika mengarah ke arah Utara) adalah hutan bakau yang luas, lengkap dengan sungai dan rawa. Sepanjang jalan dari batas Pulau Kambing tadi, kami jarang sekali menemui permukiman, hanya lahan rawa dan hutan bakau. Di Desa Pengadah, kami mendekati area perbukitan lagi, meskipun tidak seluas dan setinggi di daerah Selat Lampa. Batuan penyusun bukitnya tidak terlalu jelas terlihat karena tertutup rimbun pohon. Jalan di sini jauh lebih sepi dibandingkan dengan jalur menuju Selat Lampa, meskipun ada juga pekerjaan pembangunan jalan dan jembatan. Berhubung kami melewatkan jam makan siang (lagi), jadi, kali ini perut kami hanya diisi cemilan dan beberapa minuman berasa. Rencananya kami akan makan di Pantai Tanjung (kalau tidak salah namanya) sekaligus mencicipi beberapa kue dan makanan khas dari Natuna.

upload-33

upload-43

Motor Bang Naen yang berada di depan tiba-tiba berhenti. Ada satu spot dimana kami bisa melihat Tanjung Datuk dan Pantai Migit dari atas tebing. Kami pun menyeberangkan motor dan menyusuri area yang lebih mirip bekas area penambangan liar yang sekarang penuh lumpur. Lumayan susah untuk berjalan di sini, tapi pemandangannya cukup bagus, hanya saja sekarang sedang mendung. Air laut di sekitar sini meskipun habis hujan dan tidak ada sinar matahari masih tetap berwarna tosca. Bukan hanya view pantai dari atas tebing saja yang menarik di sini, spot dari tengah jalan pun cukup bagus dan berhubung nyaris tidak ada kendaraan lain yang melintas di sini, kami pun memanfaatkan untuk mengambil beberapa foto di tengah jalan pemandangannya langsung menghadap bukit Tanjung Datuk. Setelah selesai, kami jalan sedikit, dan lagi-lagi tiba-tiba motor Bang Naen langsung belok ke jalan setapak yang nyaris semuanya tertutup semak-semak. Rupanya jalan setapak ini merupakan jalan masuk menuju pantai yang tadi kami lihat dari atas tebing. Garis pantainya cukup panjang, tapi di pantai ini lebih dominan batu karang yang memiliki permukaan datar dan landai serta beberapa batu karang berwarna dan berbentuk cukup unik. Air laut di pantai Tanjung Datuk ini belum pasang, jadi, kami masih bisa dengan leluasa berjalan di atas hamparan batu karang dengan latar di sisi kanan kami Gunung Ranai di kejauhan dan bukit Tanjung Datuk di sisi kiri kami. Diantara batu-batu yang datar ini ada celah cukup lebar yang terbentuk dari erosi air laut yang berhasil menerobos batuan, mirip seperti saluran air kecil di antara hamparan batuan. Sekilas, jadi teringat Pantai Kedung Tumpang di Tulungagung Jawa Timur yang memiliki kolam-kolam kecil di antara hamparan batu karang akibat abrasi air laut. Sepertinya, penampakan pantai ini jika sedang musim kemarau akan mirip seperti Kedung Tumpang, hanya saja kolam diantara batuan karangnya digantikan dengan saluran air . Sebenarnya saya pun ga terlalu yakin kalau batu yang terhampar luas ini adalah batu karang. Permukaannya datar dan halus, selain itu warnanya pun sedikit terang untuk batu karang. Ah, sudahlah biar nanti saya tanyakan saja pada teman-teman di Geologi bila sudah kembali ke Bandung. Cukup mengambil foto di sini, kami teruskan perjalanan menuju Tanjung Datuk. Dinamakan Tanjung Datuk, karena memang membentuk semenanjung, hanya saja, semenanjungnya lebih tinggi dari bibir pantai.

upload-53

upload-63

Jalan masuk menuju bukit Tanjung Datuk (saya namain sendiri saja bukit, karena memang ketinggiannya tidak sejajar garis pantai) merupakan jalan tanah dan batu. Terdapat beberapa spot mirip bekas area penambangan batu yang tidak terurus. Di satu titik, terdapat pertigaan, kami mengambil jalan yang mengarah ke bawah. Di sini merupakan spot yang menghadap ke Pulau Panjang dan Pulau Pendek serta ada dua pantai landai di ujung Pulau Bunguran ini. Menurut Bang Naen, jalan raya yang mulus yang sedari kemarin kami temui akan berakhir di Desa Teluk Buton ini. Sisanya, jalan yang menghubungkan Kecamatan Bunguran Timur Laut dengan Kecamatan Bunguran Barat masih jalan batu. Mungkin ini sebabnya belum banyak yang mengeksplore dan informasi mengenai Kecamatan Bunguran Barat kecuali Pulau Sedanau. Bagian puncak dari bukit ini merupakan bumi perkemahan. Terdapat satu bangunan kayu dan banyak juga ayunan dan hammock sederhana di pohon-pohon yang memang tumbuh rimbun. Sambil istirahat, ayunan di bagian ujung tidak saya sia-siakan. Tepat di depan saya bermain ayunan ini adalah hamparan Laut Cina Selatan. Kami tidak terlalu lama disini, nyamuknya cukup ganas. Kami pun meneruskan perjalanan menuju satu pantai lagi yang searah jalan pulang menuju Kota Ranai. Jalan masuk ke pantai ini tidak terlalu jauh dari jalan masuk menuju area bumi perkemahan dan lagi-lagi jalan setapak dari tanah. Bahkan, kali ini kami melewati sekitar tiga genangan dan satu genangan sukses membuat motor kami sedikit keluar jalur. Jalan menuju pantai ini lebih banyak lumpurnya dibandingkan jalan menuju Pantai dan bumi perkemahan Tanjung Datuk.

upload-73

upload-83

Dari tempat kami menyimpan motor, kami harus berjalan kaki sekitar 15 menit dengan medan berupa turunan untuk sampai di pinggir pantai. Ada satu motor lain yang sudah ada disini, berarti kali ini setidaknya tidak akan hanya ada kami bertiga. Di satu percabangan, saya dan Bang Naen terus turun menuju pinggir pantai, sementara Idrus berbelok ke arah jalan setapak yang jauh lebih kecil dan tertutup ilalang. Kalau saya tidak salah ingat, namanya adalah Pantai Banyak. Pantai berpasir putih dengan garis pantai yang cukup panjang dan jejeran pohon kelapa di pinggirnya. Awalnya saya kira, ini adalah Pantai Migit karena jejeran pohon kelapanya. Tidak lama, Idrus datang dan memberi tahu bahwa dari tempatnya tadi ada satu spot bagus juga untuk foto, sayang saya tidak kesana. Batu tempat kami berdiri langsung menghadap laut, dan sedikit terpisah dari dataran. Untuk menuju tempat ini, dari pinggir bibir pantai, kami menaiki batuan karang, jadi ada sedikit jarak antara tempat kami berdiri dengan bibir pantai dan jarak tersebut merupakan celah sempit hasil abrasi ombak yang mengeluarkan suara cukup menyeramkan. Sesaat mirip seperti Situs Pantai Srau yang memiliki sea-stack dan bagian bawahnya bolong karena abrasi air laut. Ombak di Situs Pantai Srau ini tingginya bahkan melebihi tinggi batuan karang sea-stack dan hantaman ombak dengan permukaan batuan mengeluarkan suara yang cukup menyeramkan untuk saya.

upload-93

Karena kemarin di Pulau Setanau lupa kalau mau hammock-an, ahirnya saya mutusin untuk tes hammock hari ini. Setelah cari dahan pohon yang pas (meskipun banyak pohon, tapi susah yang pas), saya pun hammockan sambil istirahat. Lumayan ngantuk dan lapar juga. Suara ombak, angin sepoi-sepoi, langit yang mendung dan pemandangan yang bikin seger mata mendukung banget buat istirahatin mata sebentar. Sekitar jam 17.00 kami siap-siap pulang. Sepertinya kami harus melewatkan makan makanan khas Natuna dan Alif Stone, juga Batu Sindu. Perjalanan pulang kami terasa lebih cepat. Sewaktu hari pertama kami jalan sampai Pantai Sahi, kami tidak sengaja melihat rumah penduduk yang cukup menarik. Kami pun bilang pada Bang Naen kalau nanti mau mampir, ijin untuk mengambil foto rumahnya. Berhubung kami lupa posisi pastinya di mana, jadi selepas Pulau Sahi kami mulai mencari rumah tersebut. Ternyata posisi rumahnya tidak jauh dari perbatasan dengan Desa Sepempang. Rumah kayu kecil sederhana dicat biru terang dan kuning pada kusen pintu dan jendelanya, rumput hijau yang rapi di halaman yang luas, serta deretan pohon kepala di belakang rumah menarik perhatian kami. Setelah meminta ijin pemilik rumah untuk mengambil foto rumahnya, kami pun pamit. Mungkin pemilik rumahnya heran, ada orang asing yang tiba-tiba mau ambil foto rumahnya. Kami masuk Desa Sepempang sekitar pukul 17.30 dan masih lumayan terang, jadi kami putuskan untuk mampir sebentar ke Batu Sindu, sekedar biar ga penasaran, sukur-sukur kami dapat foto yang bagus.

upload-115

upload-123

Jalan masuk menuju Batu Sindu sama sekali tidak ada papan penunjuk arah, hanya jalan kecil yang diaspal diantara jejeran pohon. Jalan aspal kecil ini makin lama makin menanjak menuju bukit. Di bagian atas, di kanan dan kiri jalan mulai terlihat bongkahan besar granit yang menjorok ke jalan. Sepi, hanya ada motor kami di jalan ini. Bagian puncak dari bukit ini sebenarnya radar dan pos milik TNI. Tanjung Senubing namanya. Kami memarkirkan motor di lahan parkir di depan kantor menara radar. Lagi-lagi hanya kami bertiga di sini. Selagi kami mendengarkan penjelasan Bang Naen, tiba-tiba ada suara kakek-kakek, tepat di belakang saya. Otomatis kaget, karena sedari tadi hanya ada kami bertiga. Ternyata bapak penjaga menara. Bapak ini memperingatkan agar kami berhati-hati dan menyarankan agar kami tidak turun sampai ke area Batu Sindu. Dari tempat kami ini (area parkir) memang masih harus berajalan menuruni bukit hingga tiba di tanah yang sedikit datar dan dipenuhi bongkahan granit sekitar 10 menit menurun. Jadi, kalau kami akan pulang, medan yang harus kami lalui adalah tanjakan dan pasti akan lebih dari 10 menit sampai kami tiba di parkiran. Karena pertimbangan waktu dan karena meamang sudah hampir Magrib juga, kami memutuskan untuk mengambil foto seadanya saja di jalan setapak yang menuruni bukit. Bapak tadi, lebih horor lagi, beliau menyarankan kami untuk tidak turun karena sudah hampir Magrib dan di sana (di bawah bukit) masih banyak hal-hal yang tidak bisa kami lihat dengan mata. Oke lah Pak, tanpa bapak bilang kaya gitu juga, suasananya sudah cukup serem, apalagi ini mau Magrib. Beres foto, kami bergegas ke parkiran dan langsung turun ke jalan raya.

upload-133

upload-143

Kami berpisah dengan Bang Naen di sini. Karena rumah Bang Naen di dekat sini, jadi untuk menghemat waktu, kami pulang ke hotel sendiri saja. Berhubung sudah cukup lapar dan sudah hujan-hujanan dan motoran, kami mampir sebentar di warung makan. Bukan sembarang warung makan, warung ini menjual mie tarempa. Ya, sepertinya saya ketagihan Mie Tarempa. Rasa mie tarempanya berbeda dengan yang di Pulau Batang kemarin. Yang di Ranai ini lebih enak menurut saya. Mungkin karena rasa rempah dan minyaknya tidak terlalu dominan. Beres makan, kami bergegas ke hotel, karena jam 20.00 nanti kami ditunggu oleh Bang Nelson untuk makan malam. Sampai di hotel mandi, dan langsung menuju restoran hotel. Pas pukul 19.50 Bang Naen datang ke hotel, kami pun ke restoran hotel. Bang Nelson sudah menunggu dan di atas meja sudah ada kepiting, cumi, kangkung, nasi putih panas, dan lainnya. Ah, malam terakhir di Natuna yang menyenangkan.

upload-153

upload-163

Obrolan makan malam tidak lepas dari bagaimana potensi pariwisata Natuna bisa berkembang dan hambatannya, cerita-cerita meanarik pengalaman Bang Naen dan teman-temannya untuk mempromosikan wisata dan budaya Natuna dengan usaha sendiri dan modal terbatas, kesan kurang tanggapnya instansi terkait untuk memajukan wisata, suksesnya acara kecil-kecilan Bang Naen dan teman-temannya untuk mempromosikan pariwisata Natuna sampai pembuatan dan penancapan bendera Merah Putih di Pulau Senoa sebagai tanda pulau terluar milik Indonesia. Bang Nelson pun tidak ketinggalan. Rencana dan strateginya untuk mempromosikan hotel miliknya serta mempromosikan Natuna pun tidak kalah menariknya. Intinya, semuanya terkendala di dana dan dukungan dari pihak terkait. Karena pada dasarnya Bang Nelson memang wirausahawan, jadi cukup banyak strateginya dan berani dalam hal modal. Berbeda dengan Bang Naen yang memang fokus untuk menggerakan pemuda dan pihak-pihak terkait untuk mempromosikan dan memajukan pariwisata Natuna dengan cara layaknya anak muda dengan memanfaatkan sosial media dan kecanggihan teknologi lainnya.

upload-173

upload-183

Perjalanan tanpa rencana dan penuh hambatan kami ke Natuna kali ini memang tidak disuguhi pemandangan yang keren seperti di foto-foto milik Bang Naen, tapi kami dapat banyak info dan pengalaman yang cukup menarik. Pengalaman, ya, pengalaman yang benar-benar tidak terduga. Mulai dari rencana menginap hanya satu hari di Tanjungpinang menjadi tiga hari dua malam dan pindah-pindah hotel karena hotel pertama kami kemahalan. Ya, kami terjebak di Tanjungpinang karena kapal satu-satunya menuju Kepulauan Anambas rusak dan belum ada kepastian kapan bisa digunakan. Mencari alternatif lainnya seperti Pelni, RoRo bahkan pesawat pun sudah, hasilnya nihil. Hari kedua kami ‘terdampar’ di Tanjungpinang, kami ke dua agen pesawat yang melayani penerbangan ke Natuna dan Anambas. Ke Anambas, sudah benar-benar tidak ada harapan. Penerbangan komersil baru akan dibuka awal bulan (satu minggu lagi), sementara saat ini hanya ada carter dan harganya pun diluar budget kami, belum lagi jadwalnya sudah penuh. Akhirnya kami coba maskapai satunya, tetapi yang ada hanya rute penerbangan ke Natuna dari Batam (posisi kami masih di Tanjungpinang). Akhirnya setelah benar-benar mentok usaha kami ke Anambas, diputuskanlah Natuna. Hanya saja untuk ke Natuna, penerbangan kami baru ada Selasa depan (sekarang masih Jumat). Otomatis tiket pulang ke Bandung yang sudah lunas pun harus digeser ke lain hari. Untungnya hal ini bukan masalah. Setelah dapat penerbangan ke Natuna dari Batam Selasa depan, kami putuskan untuk pulang ke Batam menggunakan penerbangan terakhir dari Natuna, Sabtu. Ya, Minggu tidak ada penerbangan, baik dari dan ke Ranai. Jika kami ambil Kamis, rasanya kurang puas hanya tiga hari di Natuna setelah usaha dan apa yang kami alami di Tanjungpinang ini, sedangkan Jumat tidak ada penerbangan dari Ranai ke Batam. Untuk kapal laut pun kami sedikit kesulitan info untuk rute Batam-Ranai, ditambah, waktunya pun harus ditambah. Kami akhirnya putuskan pesawat meskipun sudah pasti budget kami membengkak.

upload-193

upload-203

Setelah dapat tiket pun, ternyata kami masih harus diam di Tanjungpinang setidaknya sampai besok (Sabtu) karena pelabuhan ditutup gara-gara kabut asap. Akhirnya, Sabtu pagi kami bisa menyeberang ke Batam. Di Batam pun, tidak banyak yang kami lakukan. Kami setidaknya pindah hotel dua kali. Sabtu hingga Selasa kami hanya diam di hotel, tidak pergi kemana-mana apalagi belanja. Pertama, karena tujuan kami bukan Batam, jadi sedikit malas rasanya pergi kemana-mana. Kedua, jika kami pergi, otomatis ada beberapa pengeluaran, nah, karena sampai tempat tujuan saja belum, jadi kami berusaha menekan sebisa mungkin pengeluaran kami. Selama kami tidak jelas di Tanjungpinang, untungnya masih ada Fajri dan Pak Andi yang banyak membantu, juga orangtua di Pulau Jawa yang sudah ikut dibikin pusing masalah jadwal penerbangan dan booking-booking tiket. Pak Andi, supir taksi pelabuhan yang bisa juga sebagai supir carter yang mengantar kami muetr-muter Tanjungpinang mulai dari bolak-balik cari hotel gara-gara semua hotel penuh dampak penutupan pelabuhan, bolak-balik cek ke agen kapal yang ke Anambas, cek ke teman-temannya info kapal lain menuju Anambas, mengantar kami ke agen maskapai penerbangan, atm, bandara, bank, dan lain-lainnya. Yah, mungkin buat sebagian besar orang, mana ada yang mau bulan madunya ke tempat jauh dengan akomodasi yang susah ditambah kejadian tak terduga berkali-kali, tapi buat kami, malah jadi cerita yang jauh lebih menarik dibandingkan bulan madu yang full fasilitas, full akomodasi, dan lancar-lancar saja.

upload-212

upload-221

upload-231

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s