CURUG BATU NYUSUN / CURUG CISARUA

Curug Batu Nyusun secara administratif berada di Kampung Cikuda, Desa Pangrumasan, Kecamatan Peundeuy, Kabupaten Garut, Jawa Barat. Batu Nyusun sebenarnya merupakan nama untuk suatu kenampakan geologi berupa columnar joint yang berada di dekat air terjun. Air terjunnya sendiri oleh warga lebih dikenal atau mempunyai nama lain yaitu Curug Cisarua, namun, yang lebih terkenal di masyarakat luas ialah Curug Batu Nyusun. Curug Cisarua merupakan salah satu dari setidaknya lima air terjun yang berada di Desa Pangrumasan. Di atas aliran Curug Cisarua masih terdapat satu air terjun kecil yang oleh warga setempat dinamai Curug Tengah. Curug Cisarua memiliki ketinggian sekitar 30 – 50 m dengan dinding air terjun yang cukup khas, yaitu berupa columnar joint. Curug Cisarua memiliki air yang jernih karena masih berada di lereng perbukitan dan masih satu aliran dengan Curug Koncrang atau Curug Luhur sebutan warga setempat. Keberadaan Curug Cisarua ini masih belum terlalu banyak diketahui oleh masyarakat luas, salah satu penyebabnya adalah sulitnya aksesibilitas menuju lokasi, bahkan dari Kota Garut.

Akses termudah menuju lokasi bila dari arah Kota Garut yaitu melalui Cikajang. Setelah tiba di Kecamatan Cikajang, ambil jalan menuju Singajaya yang berada pada koordinat -7.393508, 107.836663 yang jalan masuknya ditandai oleh gapura dan pangkalan ojek. Kondisi jalan dari Cikajang sampai kantor Kecamatan Peundeuy sudah baik. Aspal mulus dengan medan yang berupa perbukitan dan jalan yang berkelok-kelok di lereng Gunung Cikuray dan daerah perbukitan akan menjadi kondisi dominan selama perjalanan. Arus lalu lintas di jalur ini relatif sepi dan hanya akan didominasi oleh sepeda motor dan ELF yang menuju arah Cikajang, tetapi jika menjelang malam, truk pengangkut kayu akan sering melintas dari arah Cikajang. Kondisi jalan di malam hari cukup rawan kecelakaan. Selepas Kantor Kecamatan Banjarwangi hingga pertigaan Cikajang sering turun kabut. Kabut biasanya turun selepas pukul 18.00 dan akan sangat tebal, sehingga tidak disarankan untuk melintas bila belum terbiasa dengan medan berkelok di lereng gunung dengan kabut yang sangat tebal. Tidak ada pembatas jalan yang bisa dijadikan patokan arah jalan di jalur ini, sehingga jika kabut turun kondisi lampu kendaraan yang sesuai sangat diperlukan.

Setelah pertigaan di Cikajang, ikuti terus jalan utama melewati Kecamatan Banjarwangi, Kecamatan Singajya, Kecamatan Peundeuy. Aspal jalan yang mulus akan habis di daerah sekitar Desa Saribakti (-7.543937, 107.918679), Kecamatan Peundeuy. Selepas Desa Saribakti, kondisi jalan akan kembali menjadi batu dengan medan yang masih sama, yaitu perbukitan. Medan berupa tanjakan dan turunan masih akan mendominasi jalur menuju Desa Pangrumasan. Setelah pusat Desa Toblong, di kanan dan kiri jalan akan menajdi sedikit lebih sepi dan pemandangan akan mulai terbuka. Puncak-puncak perbukitan terjal dan aliran Sungai yang cukup besar yang merupakan sambungan dari aliran Sungai Cibaliuk.

Kondisi jalan selepas pusat Desa Toblong akan semakin buruk, batu-batu yang cukup besar dan sebagian lepas akan mendominasi jalur, selain itu, permukiman penduduk akan semakin jarang ditemui dan jaraknya berjauhan. Ikuti terus jalan besar hingga pemandangan di kanan dan kiri jalan menjadi terbuka dan berada di punggungan bukit dan akan menajdi sedikit menurun. Akan ditemui warung kecil satu-satunya di kanan jalan dengan pemandangan laut dan perbukitan. Ikuti terus jalan besar yang kali ini akan didominasi dengan turunan. Turunan di titik ini merupakan yang terpanjang dan tercuram, batu-batunya pun banyak yang sudah lepas dan cukup licin, sehingga bila musim hujan akan cukup merepotkan. Ikuti jalan hingga tiba di persimpangan pada koordinat -7.591121, 107.910618 dan ambil kanan, sedangkan arah lainnya adalah yang menuju Desa Maroko. Ikuti terus jalan utama yang masih didominasi oleh batu-batu lepas dan turunan hingga tiba di persimpangan pada koordinat -7.588674, 107.904589. Pada persimpangan ini ambil jalan kecil ke sebelah kanan dengan patokan tugu PNPM Desa Pangrumasan di kanan jalan.

Jalan menuju Desa Pangrumasan jauh lebih kecil dan lebih rusak dibandingkan jalur Toblong – Maroko. Persimpangan ini merupakan bagian dari Kampung Cinangsi, Desa Pangrumasan, Kecamatan Peundeuy, Kabupaten Garut. Kondisi batu di jalur ini jauh lebih buruk dibandingkan jalur sebelumnya, bahkan di beberapa titik, batunya sudah hancur dan menjadi bentuk pasir yang sangat gembur sehingga cukup menyulitkan kendaraan yang melintas. Untuk tiba di Kampung Cikuda, lokasi terakhir untuk kendaraan bermotor dari pertigaan Simpang Maroko dengan Desa Pangrumasan, setidaknya harus melewati dua kampung di Desa Pangrumasan terlebih dahulu dan harus memutari bukit di pinggir jurang yang cukup dalam. Jarak dari kampung pertama di dekat Simpang Maroko – Desa Pangrumasan cukup jauh dan harus melewati kebun serta hutan yang cukup sepi. Jika malam hari, jalur ini akan ramai truk pengangkut kayu yang melintas. Sebenarnya, akan ditemui persimpangan pada koordinat -7.566800, 107.898829 yang akan tembus menuju Jalan Raya Toblong di persimpangan pada koordinat -7.566719, 107.916337. Dari segi jarak, jalur ini memang memiliki jarak yang lebih pendek, tetapi kondisi jalan masih sama, yaitu batu dan bahkan sebagian merupakan jalan tanah, medan dan tingkat kesulitan pencapaiannya pun sedikit lebih sulit. Diperkirakan jalur ini adalah jalur truk pengangkut kayu.

Setelah tiba di Kampung Cigalugur, patokan menuju Kampung Cikuda adalah kantor Desa Pangrumasan dan jembatan yang menyeberangi aliran sungai yang cukup besar. Jalan dari Kampung Cigalugur menuju Kampung Cikuda masih didominasi oleh batu yang berukuran cukup besar, lebar jalan cukup sempit. Medan menuju Kampung Cikuda didominasi oleh turunan terjal. Perjalanan dengan kendaraan bermotor hanya akan bisa dilakukan sampai Kampung Cikuda, pada koordinat -7.569809, 107.890823. Motor bisa dititipkan di rumah warga. Perjalanan berikutnya dilakukan dengan berjalan kaki melewati pematang sawah dan kebun warga sejauh 1,5 Km dengan waktu tempuh kurang lebih satu jam. Sebaiknya meminta antar warga untuk menemani trekking menuju air terjun karena tidak akan ada patokan menuju air terjun dan jalur di kebun warga cukup tertutup.

Pemandangan selama trekking di pematang sawah dari Kampung Cikuda menuju Curug Cisarua akan disuguhkan oleh tebing perbukitan yang terjal serta aliran sungai dan tumpukan batu columnar joint yang sebenarnya merupakan bagian dari tebing. Keberadaan columnar joint di sekitar Pangrumasan masih perlu diteliti, apakah hasil intrusi atau hasil aktivitas gunung api yang sudah terhenti dan kemungkinan juga bentuknya sudah mengalami perubahan akibat lapuk dan tererosi. Jalur trekking di pematang sawah akan berakhir di sebuah saung kecil tepat disamping semak belukar yang cukup tinggi. Dari saung ini aliran sungai dari Curug Cisarua sudah mulai terlihat. Untuk meneruskan perjalanan menuju sungai dari saung harus melewati ilalang yang tingginya melebihi orang dewasa dengan beberapa lubang dalam berukuran kecil yang tertutup rerumputan. Ada juga jalur air yang cukup dalam yang hanya dihubungkan oleh satu buah batang kayu yang sangat kecil dan jembatan kayu yang sangat kecil. Medan dari saung didominasi oleh turunan, berbeda dengan jalur trekking dari jalan hingga saung di pematang sawah yang didominasi turunan tetapi terdapat banyak area yang datar.

Setiba di aliran sungai, maka Curug Cisarua pun akan terlihat. Dinding air terjun dan dinding di sekitar air terjun pun masih banyak terbentuk columnar joint. Air sungai yang jatuh menjadi Curug Cisarua tergolong yang jernih, karena posisinya yang masih berada di dataran tinggi dan jenis batuannya bukan yang mudah larut air. Bila sedng puncak musim hujan, jarang terjadi air bah seperti di aliran sungai lainnya, seperti misalnya di Curug Cinangsi yang hampir setiap tahunnya memakan korban karena air bah. Aliran sungai dari Curug Cisarua ini kemudian akan menyatu dengan aliran sungai utama yang bermuara di Kecamatan Cibalong, tepat sebelum area Hutan Sancang.

Curug Cisarua merupakan air terjun semi permanen, yaitu air terjun yang akan kering total ketika musim kemarau panjang. Curug Cisarua dapat dikalsifikasikan ke dalam air terjun Tiered dan Horsetail sebagai tipe dominannya. Klasifikasi Tiered yang muncul memang hanya berada pada bagian atas air terjun, yaitu tepat saat air jatuh dari tebing. Kalsifikasi ini muncul karena dinding air terjun yang berbentuk seperti kolom-kolom balok menyerupai anak tangga dalam jarak yang sangat sempit. Kolom-kolom balok inilah yang memberikan kesan bahwa air yang jatuh dari tebing akan mengalami beberapa tahapan jatuhan, tidak langsung jatuh secara vertikal. Klasifikasi Horsetail muncul karena aliran air yang jatuh tetap mempertahankan kontak dengan dinding air terjun selama proses jatuhannya, meskipun bentuknya tidak seperti air terjun tunggal. Aliran sungai dan tebingnya memang sedikit lebar, tetapi tidak cukup lebar untuk memunculkan klasifikasi Block. Curug Cisarua sudah mempunyai kolam, meskipun tidak terlalu lebar dan banyak sekali terdapat batuan dalam bentuk bongkahan besar. Di bawah aliran jatuhan air, masih banyak terdapat bongkahan batuan yang terkikis langsung oleh air yang jatuh dari atas tebing.

Pangrumasan adalah suatu Daerah yang terletak di sebelah selatan dari Kota Garut, adapun Nama Pangrumasan di ambil dari dua suku kata yaitu Pangru kata tersebut diambil dari nama sungai yang bernama Cipangru ada di Pangrumasan kemudian kata Masan yang mempunyai makna keemasan. Pemuka awal Daerah Pangrumasan  dikelola oleh Desa Singajaya artinya bahwa wilayah Pangrumasan dibawah Pemerintahan Desa Singajaya yang dipimpin oleh Lurah Bintang Singajaya. Kebudayaan Masyarakat Pangrumasan yang ada sejak dulu diantaranya: Tradisi ngaruat Lembur, Tradisi ziarah, Tradisi Hajat Tujuh Bulan, dan lain-lain sehingga Pangrumasan bisa disebut kaya dengan budaya dan bertumpu kepada nama yang berarti keemasan, yang telah diwariskan leluhurnya untuk dilanjutkan untuk masa yang akan datang. Selama lebih kurang 3 tahun yaitu tahun 1905 Daerah Pangrumasan direncanakan akan dibentuk sebuah Desa, dan pada waktu itu dibentuklah sebuah Panitia Pemilihan Kepala Desa untuk menentukan siapa Kepala Desa yang akan menjabat di Pangrumasan. Sejak itulah Pangrumasan yang awalnya sebuah kedusunan menjadi sebuah Desa.

SUMBER LAINNYA :

http://bakanatia.blogspot.co.id/2013/06/normal-0-false-false-false-in-x-none-x.html

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s