CURUG KAPAKUDA/CURUG CITERUS

Secara administratif, Curug Kapakuda/Citerus berada di Desa Sadawangi, Kecmatan Lemahsugih, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat dan berada pada koordinat (-6.981999, 108.178487). Curug Kapakuda merupakan sala satu air terjun yang baru-baru ini mulai terkenal di kalangan traveler, terutama yang berasal dari Majalengka. Secara keseluruhan, pencapaian untuk menuju air terjun ini tidak terlalu sulit. Berikut uraian mengenai beberapa pencapaian menuju Curug Kapakuda.

BANDUNG – MALANGBONG – CURUG KAPAKUDA

Arahkan kendaraan mengikuti jalur utama Bandung – Tasikmalaya. Ikuti jalan utama hingga memasuki Malangbong. Setiba di Malangbong. ambil arah menuju Wado di persimpangan pada koordinat -7.060653, 108.086888. Berikutnya, jalur yang dilewati akan menyusuri sisi lain Gunung Cakrabuana. Jika malam hari, kabut sering turun di sepanjang jalur ini hingga memasuki Wado. Setiba di Wado, ikuti jalan menuju Terminal Wado pada koordinat -6.945225, 108.092623.

Setelah belok menuju Terminal Wado, ikuti terus jalan utama melewati Kecamatan Jatinunggal hingga memasuki Kecamatan Lemahsugih. Kondisi jalan cukup baik dengan medan yang didominasi tanjakan panjang dan tikungan tajam yang jarak antar tikungannya berdekatan. Ukuran jalan tidak terlalu lebar, sehingga jika berpapasan dengan kendaraan lain sebaiknya sedikit waspada. Arus lalu lintas akan sedikit sepi menjelang sore. Ikuti jalan utama hingga tiba di patokan berikutnya, yaitu pertigaan pada koordinat -6.975008, 108.183401ambil arah ke kiri. Lalu di persimpangan berikutnya pada koordinat -6.977261, 108.183019 ikut terus jalan yang menanjak, jangan mengikuti jalan utama. Ikuti jalan hingga menemukan rumah di sisi kiri jalan pada koordinat -6.978829, 108.182370, Kendaraan dapt disimpan di sini, tentunya seizin pemilik rumah. Total pembacaan jarak dan waktu tempuh pada peta adalah 100 Km dengan waktu kurang lebih selama 3 jam 33 menit.

MAJALENGKA – LEMAHSUGIH – CURUG KAPAKUDA

Bila datang dari arah Majalengka, arahkan kendaraan menuju Kecamatan Maja. Setiba di Kecamatan Maja, ikuti terus jalan hingga tiba di Kecamatan Talaga. Di alun-alun Talaga akan ada persimpangan pada koordinat -6.982770, 108.311081. Pada pesimpangan tersebut ambil kanan menuju Jalan Talaga – Bantarujeg. Ikuti terus jalan utama melewati Kecamatan Bantarujeg. Arus lalu lintas di jalur ini tidak akan terlalu ramai seperti pada jalur Majalengka – Maja. Pada malam hari akan sangat gelap karena tidak ada penerangan jalan. Ikuti jalan hingga tiba di Kecamatan Lemahsugih. Di Kecamatan Lemahsugih akan ditemui persimpangan pada koordinat -6.977283, 108.183014, ambil arah kanan. Jalan akan sedikit mengecil dan menanjak. Ikuti jalan hingga menemukan rumah di kiri jalan pada koordinat -6.978829, 108.182370, Kendaraan dapt disimpan di sini, tentunya seizin pemilik rumah. Total pembacaan jarak dan waktu tempuh pada peta adalah 47,3 Km dengan waktu kurang lebih selama 1 jam 26 menit.

TASIKMALAYA – CIPASUNG – CURUG KAPAKUDA

Bila datang dari arah Kota Tasikmalaya, jalur yang dilalui akan sedikit melewati jalan pintas. Dari Kota Tasikmalaya, ikut jalan menuju Ciawi dan di persimpangan pada koordinat -7.125025, 108.145529 ambi kiri menuju Jalan H. Salim. Ikuti jalan dan akan tiba lagi pada persimpangan di koordinat -7.125507, 108.154652, ambil kiri pada persimpangan ini menuju Jalan Pagerageung. Ikuti jalan raya utama hingga tiba di Desa Sukadana. Di Desa Sukadana akan ditemukan persimpangan pada koordinat -7.115252, 108.180322, ambil arah kiri. Ikuti jalan utama hingga tiba di Desa Guranteng dan akan bertemu persimpangan pada koordinat -7.097447, 108.194944, ambil arah kiri. Ikuti jalan hingga bertemu kembali pada persimpangan di koordinat -7.090072, 108.199913, ambil arah kanan. Ikuti jalan hingga memasuki Desa Sindangbarang.

Di Desa Sindangbarang akan ditemui kembali persimpangan pada koordinat -7.079424, 108.206456, ambil arah kiri dan jalan akan melewati SDN 2 Sindangbarang. Jalan akan bercabang pada koordinat -7.073993, 108.202675, ambil arah kanan. Persimpangan berikutnya akan ditemui pada koordinat -7.070059, 108.193668, ambil arah kanan. Ikuti jalan hingga tiba di Desa Girimukti dan bertemu pada persimpangan di koordinat -7.049907, 108.199558, ambil arah kanan. Ikuti jalan utama hingga memasuki Kecamatan Lemahsugih dan akan bertemu persimpangan pada koordinat -7.004268, 108.227767, ambil arah kiri. Ikuti terus jalan raya utama hingga tiba di persimpangan pada koordinat -6.977283, 108.183014, ambil arah kiri. Jalan akan sedikit mengecil dan menanjak. Ikuti jalan hingga menemukan rumah di kiri jalan pada koordinat -6.978829, 108.182370, Kendaraan dapt disimpan di sini, tentunya seizin pemilik rumah. Total pembacaan jarak dan waktu tempuh pada peta adalah 66,1 Km dengan waktu kurang lebih selama 2 jam 13 menit.

DESA SADAWANGI – CURUG KAPAKUDA

Perjalanan berikutnya hanya dapat ditempuh dengan berjalan kaki selama kurang lebih tiga puluh menit dengan jarak hampir 1 Km. Medan yang harus ditempuh adalah melalui pematang sawah menuju jejeran perbukitan di belakang areal pesawahan. Tidak ada penunjuk jalan menuju lokasi Curug Kapakuda, sehingga harus pintar-pintar memilih pematang sawah yang mendekati lokasi. Bila ragu, dapat bertanya atau meminta antar pada penduduk setempat atau para petani. Areal di sekitar Curug Kapakuda cukup sempit dan rawan longsor. Baru-baru ini, sekitar akhir April telah terjadi longsor yang menyebabkan jatuhnya bongkahan batu yang berada di tengah aliran curug pada tingkatan ke-3. Selain itu, akibat longsoran ini, area di sekitar Curug Kapakuda dipenuhi sampah batang bambu dan bongkahan-bongkahan batu. Ruang gerak untuk mengelilingi area Curug Kapakuda pun menjadi sangat terbatas. Curug Kapakuda merupakan air terjun non permanen, artinya aliran jatuhannya akan kering total pada musim kemarau.

Secara keseluruhan, Curug Kapakuda dapat dikalsifikasikan ke dalam tipe Multi step/Tiered Waterfaal. Curug Kapakuda memiliki empat tingkatan utama. Tingkatan pertama memiliki tinggi lintasan yang cukup pendek. Tingkatan pertama dapat dikalsifikasikan kedalam tipe Segmented dan Horsetail waterfaal. Aliran jatuhannya terbagi ke dalam dua lintasan karena adanya halangan/hambatan pada tepi dinding air terjun yang cukup besar sehingga memisahkan aliran sungai kedalam dua lintasan pada saat proses jatuhannya. Tingkatan kedua memiliki lintasan terpanjang diantara tingkatan lainnya. Aliran jatuan pada tingkatan kedua pada dapat dikalsifikasikan ke dalam tipe dominan Plunge waterfall. Aliran jatuhan setelah melalui tingkatan pertama bila cukup deras akan jatuh mengenai permukaan batu yang tidak begitu rata, sehingga pada proses jatuhan berikutnya, aliran air akan sedikit terdorong dan tidak mengenai dinding air terjun. Bentuk seperti ini merupakan salah satu ciri dari klasifikasi dari Plunge Waterfall.

Setelah proses jatuhan pada tingkatan kedua, air akan masuk ke sebuah cekungan diantara tebing sebelum kemudian jatuh kembali menjadi tingkatan ketiga dari Curug Kapakuda. Tingkatan ketiga Curug Kapakuda memiliki klasifikasi dominan Segmented Waterfall. Aliran jatuhannya terbagi ke dalam dua lintasan karena adanya halangan/hambatan pada tepi dinding air terjun berupa bongkahan batu yang cukup besar sehingga memisahkan aliran sungai kedalam dua lintasan pada saat proses jatuhannya. Klasifikasi yang juga dominan muncul pad atingkatan ketiga yaitu Horsetail Waterfall. Kedua aliran jatuhan akan tetap mempertahankan kontak dengan dinding air terjun selama proses jatuhannya. Setelah melewati tingkatan ketiga, aliran air akan melewati beberapa jeram sebelum akhirnya terbagi dua aliran. Aliran pertama masuk ke dalam saluran irigasi dan aliran kedua akan terus melewati sistem sungai dan akan menjadi tingkatan keempat Curug Kapakuda. Pada tingkatan keempat ini, aliran jatuhannya sudah tidak sederas tingkatan-tingkatan sebelumnya. Pemisahan aliran sungai menajdi dua dan banyaknya hambatan berupa bongkahan batu dan kayu menjadi beberapa penyebab berkurangnya volume jatuhan air pada tingkatan terakhir ini. Setelah tingkatan keempat ini, aliran dari Curug Kapakuda akan kembali menyatu ke dalam sistem sungai menuju hilir.

KECAMATAN LEMAHSUGIH

Secara geografis Kecamatan Lemahsugih terletak di selatan. Kabupaten Majalengka yaitu antara 108˚08’ – 108˚16’ Bujur Timur, 6˚58’-7˚0’ Lintang Selatan, dengan batas-batas wilayahnya:

Sebelah Selatan, berbatasan dengan Kabupaten Tasikmalaya

Sebelah Barat, berbatasan dengan Kabupaten Sumedang

Sebelah Utara, berbatasan dengan Kecamatan Bantarujeg dan Kabupaten Sumedang

Sebelah Timur, berbatasan dengan Kecamatan Bantarujeg dan Kecamatan Malausma

Luas wilayah Kecamatan Lemahsugih adalah 78,64 Km2, berarti luas wilayah Kecamatan Lemahsugih sekitar 6,53 % dari luas Wilayah Kabupaten Majalengka (yaitu kurang lebih 1.204,24 Km2) dengan ketinggian tempat bervariasi antara 265 – 1.050 m diatas permukaan laut. Jarak dari Ibukota Kecamatan (Lemahputih) ke Ibukota Kabupaten adalah sejauh 53 Km.

Ditinjau secara topografi, Kecamatan Lemahsugih termasuk dalam kategori dataran dengan ketinggian medium dan tinggi ( wilayah dengan ketinggian antara 200 – 1000 m dpl). Desa Kepuh merupakan desa yang memiliki ketinggian/altitude tempat terendah, yakni berada di ketinggian 265 m dpl. Sedangkan Desa Lemahputih merupakan desa yang memiliki ketinggian tertinggi, yaitu berada di ketinggian 1.050 m dpl. Secara geografi, seluruh desa di Kecamatan Lemahsugih termasuk kawasan bukan pesisir. Sebagian terletak di lereng/punggung bukit, dan sebagian lainnya merupakan wilayah daratan. Sektor pertanian merupakan sektor utama di Kecamatan Lemahsugih, sehingga sebagian besar mata pencaharian penduduknya yaitu bertani. Kecamatan Lemahsugih merupakan salahsatu kawasan sentra agribisnis di Kabupaten Majalengka, salahsatu buktinya ditunjukkan dengan besarnya luas lahan sawah yang mencapai 2.366 Ha. Selain itu, letak geografisnya yang berada di dataran medium (400-800m dpl), menjadi salah satu faktor berkembangnya pertanian hortikultura di Lemahsugih. Menurut data Dinas Pertanian dan Perikanan Kabupaten Majalengka, produksi padi sawah pada tahun 2014 mencapai 35.297 ton dengan produktivitas rata-rata sebesar 64,46 kuintal/Ha.

Selain tanaman padi, Kecamatan Lemahsugih juga merupakan daerah penghasil komoditas palawija seperti jagung, kedelai, kacang tanah dan ubi jalar. Tahun 2014 produksi jagung tercatat sebanyak 2.992 ton, dengan produktivitas rata-rata mencapai 74,80 kuintal/Ha. Tak ketinggalan sub sektor hortikultura juga memberikan kontribusi yang positif. Saat ini Lemahsugih merupakan salahsatu produsen komoditas hortikultura terbesar di Kabupaten Majalengka. Sub sektor perkebunan cukup berkembang di Lemahsugih, diantaranya tembakau dan cengkeh. Tembakau merupakan komoditas utama dari sektor perkebunan. Lemahsugih menjadi salah satu sentra terbesar tembakau di Kabupaten Majalengka, produksi tembakau di tahun 20134 mencapai 3.704,40 ton. Budidaya tembakau berkembang luas terutama di Desa Sinargalih, Padarek dan Sukajadi.

DESA SADAWANGI

Desa Sadawangi merupakan salah satu desa dari total 19 desa yang berada di Kecamatan Lemahsugih. Ibukota Desa Sadawangi lebih dikenal dengan sebutan Blok Sadawangi. Desa Sadawangi memiliki tiga dusun, diantaranya Galumpit, Blok Desa, dan Cikondang. Desa Sadawangai memiliki status Desa dengan klasifikasi sebagai Desa Swadaya. Desa Swadaya merupakan Desa swadaya

Desa swadaya adalah suatu wilayah pedesaan yang hampir seluruh masyarakatnya mampu memenuhi kebutuhannya dengan cara mengadakan sendiri.

Ciri-ciri desa swadaya :

  1. Daerahnya terisolir dengan daerah lainnya.
  2. Penduduknya jarang.
  3. Mata pencaharian homogen yang bersifat agraris.
  4. Bersifat tertutup.
  5. Masyarakat memegang teguh adat.
  6. Teknologi masih rendah.
  7. Sarana dan prasarana sangat kurang.
  8. Hubungan antarmanusia sangat erat.
  9. Pengawasan sosial dilakukan oleh keluarga.

Meskipun termasuk Desa Swadaya, tetapi dari beberapa ciri desa swadaya pada umumnya, Desa Sadawangi setidaknya hanya memiliki dua ciri, yaitu bermata pencaharian dominan bersifat agraris dan hubungan antar manusia sangat erat. Hal ini dipengaruhi oleh lokasi Desa Sadawangi yang tidak terlalu jauh dari kota-kota kecamatan lainnya dan berada di jalur utama penghubung antara Kabupaten Sumedang dengan Kabupaten Majalengka. Kondisi kecamatan dan desa di sepanjang jalur ini memang baru memasuki tahap mulai berkembang, sehingga sudah memiliki prasarana dan sarana yang cukup memadai, akses mengenai teknologi sudah cukup mudah didapat, dan juga sudah mulai terbuka dengan informasi dari luar wilayah Desa Sadawangi. Kepadatan penduduk Desa Sadawangi pada 2015 pun sudah mencapai angka 1047 Penduduk per Km2. Jenis industri yang dominan di Desa Sadawangi merupakan industri kecil dan industri rumah tangga.

Sumber lainnya:

http://spynhara.mywapblog.com/pengertian-ciri-ciri-desa-swadaya-desa-s.xhtml

http://shelyrafarm.blogspot.co.id/2013/09/profil-kecamatan-lemahsugih-kabupaten.html

Kecamatan Lemahsugih Dalam Angka 2015 (BPS Kabupaten Majalengka)

Statistik Daerah Kecamatan Lemahsugih Tahun 2015 (BPS Kabupaten Majalengka)

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s