TRIP PERDANA 2017

Tepat tanggal 1 Januari 2017, saya dan suami memutuskan untuk short trip. Pangalengan kami pilih sebagai tujuan dengan pertimbangan jalanan pasti akan ramai, jadi lokasinya tidak perlu yang terlalu jauh. Dalam trip kali ini, kami akan bareng juga dengan Mitra dan Aria. Tepat pukul 08.00 WIB kami berempat berangkat menuju Pangalengan. Jalanan di sepanjang Banjaran hingga Pangalengan sudah mulai ramai, terutama oleh sepeda motor. Maklum, masih dalam rangka libur panjang akhir tahun sekaligus libur anak sekolah.

Tujuan pertama kami adalah Curug Panganten yang berlokasi di Desa Margamulya, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung, Jawa Barat. Kebetulan Mitra sudah ke Curug Panganten, jadi kami hanya tinggal mengikuti saja. Jalur yang kami ambil menuju Curug Panganten adalah yang melewati Kebun Kertamanah. Jalur di Kebun Kertamanah ini termasuk sangat baik. Pemandangannya pun tidak kalah dengan jalur-jalur lainnya di Pangalengan.

Hamparan kebun teh dengan latar belakang Gunung Wayang, Gunung Windu, Bukit Bedil dan kepulan asap Geothermal Wayang Windu menjadi sajian pemandangan sepanjang jalur ini. Kondisi jalan pun sudah dibeton dan cukup lebar. Meskipun begitu, jalur ini sangat sepi. Udara pagi ini cukup cerah namun suhunya cukup dingin, membuat kami betah rasanya berlama-lama di jalur ini. Patokan kami berikutnya adalah penangkaran rusa kertamanah.

Penangkaran Rusa Kertamanah pagi ini sudah cukup dipadati pengunjung. Patokan kami berikutnya yaitu Wayang Windu Village milik Star Energi, perusahaan swasta yang mengelola panas bumi dari Gunung Wayang. Jalur ini sudah tidak asing bagi saya dan suami, karena ini adalah jalur yang sama yang kami lalui ketika menuju Situ Aul pada Juni 2014 lalu.

Setelah melewati Wayang Windu Village, jalur akan masuk hutan pinus kemudian kembali terbuka dan bertemu dengan jalur pipa geothermal. Jalur pipa geothermal yang kami lalui ini adalah jalur pipa yang sama dengan yang terkena musibah longsor pada Mei 2015 lalu.  Kami tiba di persimpangan besar. Di persimpangan ini kami ambil arah ke kiri, sedangkan untuk ke Situ Aul adalah jalur yang kanan. Setelah belok ke kanan, jalur kembali memasuki hutan pinus. Hutan pinus ini adalah hutan pinus yang sama setelah melewati Wayang Windu Village.

Jika dilihat di peta, akan terdapat banyak jalan, yang pada kenyataannya merupakan jalan kecil dengan kondisi yang cukup rusak, oleh karena itu, rute yang kami lalui memang sedikit memutar, tetapi sekaligus merupakan rute dengan kondisi jalan yang cukup baik. Setelah memasuki hutan pinus, kami kembali berbelok ke kanan. Kali ini jalanan cukup lebar tetapi merupakan jalan dengan kerikil lepas. Mulai dari sini, medan jalan akan terus menanjak hingga puncak bukit lokasi tempat Curug Panganten.

Di jalur ini juga pemandangan akan sangat terbuka. Dengan kondisi cuaca yang berawan dan udara yang sejuk, ditambah pemandangan yang sangat terbuka, kami memutuskan untuk berhenti sejenak. Sambil istirahat karena sudah hampir dua jam riding, sambil sedikit mengambil foto. Kami tidak berhenti lama karena tujuan kami masih lumayan jauh. Segera kami melanjutkan perjalanan menuju Curug Panganten.

Setibanya kami di puncak salah satu bukit, teman kami menghentikan kendaraannya tepat di jalan masuk menuju kebun. Ternyata, ini adalah jalan masuk menuju Curug Panganten. Jalan masuknya sangat berlumpur akibat hujan semalam. Kami sedikit kesulitan untuk melintasi jalur lumpur karena cukup dalam. Akhirnya dengan tambahan batang kayu seadanya, tiga motor berhasil melintas. Jalur menuju warung tempat menyimpan motor pun masih sama berlumpurnya, hanya tidak separah di jalur masuk.

Kami memarkirkan kendaraan di warung satu-satunya. Sambil istirahat, sambil menunggu teman yang sarapan. Cuaca sedikit mendung. Kami melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Permulaan treking kai disuguhi jalur tanah dengan bekas ban motor trail di tengahnya. Medan dominan menurun tetapi tidak curam. Berikutnya kami bertemu aliran sngai yang diberi jembatan kayu seadanya. Dari jembatan kayu ini, medan mulai menanjak. Dari warung hingga jembatan, trek akan berada di dalam kebun yang cukup banyak terdapat pepohonan besar.

Setelah jembatan, trek akan menanjak dan melewati ladang warga. Di jalur ini trek akan lebih terbuka. Tidak ada papan penunjuk arah jalur mana yang harus diambil, bahkan warkut pertama kali kesini pun, Mitra sempat nyasar ke jalur bukit di sebelah bukit lokasi Curug Panganten. Untuk saya yang baru mulai treking lagi, rasanya trek seperti ini saja sudah cukup bikin cape. Untuk tingkat kesulitan 1-10, trek menuju Curug Panganten ini menurut saya masuk kategori trek dengan tingkat kesulitan level 3. Meskipun begitu, tetap saja cukup merepotkan untuk saya.

Kami berhenti untuk istirahat di ujung trek ladang. Setelah ini, trek akan memasuki jalur hutan. Jalur yang kami lewati kemudian menjadi sangat sempit, licin dan tertutup. Di sisi kiri kami jurang yang sangat dalam. Bahkan ada beberapa titik yang tanahnya gembur, dan saya beberapa kali hampir terpeleset ke arah jurang. Setelah sekitar 47 menit kami treking, akhirnya kami tiba juga di Curug Panganten.

Sudah ada pengunjung yang sedang bermain air. Sudah satu keluarga yang sedang berenang di kolam Curug Panganten. Menurut kami, air Curug Panganten ini termasuk cukup dingin, ditambah suhu udara pagi ini yang cukup sejuk. Tapi ketiga anak kecil ini nampaknya tidak bermasalah dengan suhu air dan suhu udara yang dingin. Malah, ketika disuruh untuk siap-siap pulang, ketiga anak ini malah merengek agar ditambah waktunya untuk berenang.

Kami cukup lama di Curug Panganten, mungkin sekitar satu jam. Akhirnya tepat pukul 13.00 WIB kami kembali ke area parkir. Kami baru benar-benar meninggalkan warung sekitar pukul 13.30 WIB. Tujuan kami berikutnya adalah Situ Aul di Desa Margamukti, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung. Perjalanan menuju Situ  Aul cukup lancar, karena kami hanya tinggal mengikuti jalur kami datang.

Setelah memarkirkan kendaraan tepat di depan gerbang Sumur Produksi Star Energi, saya menyarankan untuk masuk lewat jalan kecil di samping pintu gerbang, karena tidak terlalu sulit mencari jalurnya. Ternyata kami diapnggil oleh beberapa orang di pintu hutan. Ternyata, sekarang kalau mau ke Situ Aul harus bayar registrasi. Padahal, 2014 lalu, saya dan beberapa teman langsung masuk, malah harus cari jalan masuk sendiri.

Menurut mereka, mereka adalah warga setempat. Kamii sempat dikira akan menuju Puncak Sulibra, nama puncak di Gunung Gambungsedaningsih. Setelah kami jelaskan akan ke Situ Aul, kami ditunjukan jalan yang menuju kebun warga. Jalur yang sama persis dengan yang saya lewati 2014 lalu. Untuk biaya retribusinya, menurut saya 10.000 Rupiah itu terlalu mahal jika dibandingkan dengan kondisi menuju dan di sekitar Situ Aul.

Ilalang yang menutupi jalur sudah jauh lebih tinggi dibanding terakhir saya kesini (2,5 tahun yang lalu), mungkin karena memang lagi musim hujan, mungkin juga karena memang dibiarkan begitu saja. Selain itu, jalur setelah kebun warga pun seluruhnya tertutup, bahkan ada yang langsung berbatasan dengan genangan air. Kalau tidak berhati-hati, bisa saja tercebur.

Lokasi kami istirahat dulu pun sudah tertutup oleh ilalang dan ranting-ranting pohon, bahkan kali ini kami tidak bisa mencapai loaksi tersebut karena sudah sangat tertutup. Berhubung musim hujan, luas genangan pun bertambah. Bagian yang dulu sewaktu saya kunjungi kering, kali ini digenangi air. Kami tidak berlama-lama di Situ Aul karena tidak bisa mendapatkan view dan lokasi yang cukup nyaman untuk istirahat.

Jalur pulang, kami ambil sama dengan jalur pulang ketika 2014 saya berkunjung kesini. Ternyata, jalan setapak di pinggir pagar Star Energi sudah berubah menajdi kubangan lumpur karena sering dilewati oleh motor. Kami terpaksa mengambil jalur ke atas bukit. Jalur yang kami ambil sekarang, muncul tepat di sebelah kanan jalan setapak di samping pagar sumur produksi Star Energy, tidak terlalu jauh memutar. Ketika kami tiba di tempat kami menyimpan motor, orang-orang yang tadi menagih retribusi sudah tidak ada.

Tujuan berikutnya yaitu Jembatan Siphon di Desa Banjarsari, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung. Sebelumnya, kami akan mampir dulu ke warung nasi berhubung sudah lewat waktunya makan siang. Lokasi Jembatan Siphon berada di Perkebunan Malabar. Lokasi Perkebunan Malabar ini berseberangan dengan lokasi kami sekarang. Ada dua jalur menuju Perkebunan Malabar, yang pertama yaitu yang melewati jalur saya ke Situ Aul dan tembus di sekitar Kantor Induk Kebun Malabar. Jalur kedua yaitu kembali ke Penangkaran Rusa Kertamanah kemudian ke jalan raya utama Pangalengan dan masuk melalui gebang PTPN VIII.

Jalur pertama sebenarnya lebih singkat, hanya saja karena jalurnya banyak percabangan dan saya sedikit lupa, maka kami memutuskan untuk lewat penangkaran rusa kertamanah. Warung nasi yang akan kami datangi pun ternyata tepat sebelum gerbang PTPN VIII. Sebenarnya, mungkin warung nasi ini cukup terkenal, hanya saja saya baru tahu. Memang, ketika bepergian, saya cenderung memilih warung nasi yang sedikit sepi ketimbang yang memang sudah cukup terkenal. Makanya, ini adalah kali pertama saya tahu warung nasi ini.

Kami mulai perjalanan kembali sekitar pukul 16.00 WIB. Di gerbang PTPN VIII arah yang kami ambil adalah yang ke kanan. Jalur ke kanan ini merupakan jalur menuju Makam Bosscha dan Villa Malabar. Kondisi jalan sangat baik, kami bahakna tidak memerlukan waktu lama untuk melewati persimpangan ke arah makam Bosscha. Jalur yang kami ambil adalah yang mengarah ke Dusun Banjarsari, Desa Banjarsari.

Patokan berikutnya adalah Malabar Tea House. Lokasi pabrik pengolahan teh sekaligus wisma/villa yang disewakan untuk umum. Jalur yang harus kami lalui masih terus mengarah ke arah desa. Setibanya di Dusun Banjarsari, ternyata jalr yang kami ambil melenceng dari jalur yang ditunjukan Gmaps. Setelah disetting ulang, akhirnya kami ditunjukan jalur yang menyusuri dusun. Tepat di ujung jalan permukiman warga, kami kembali bertemu dengan persimpangan.

Menurut warga, jalur yang harus kami ambil adalah yang ke arah kiri, sedangkan yang lurus adalah yang menuju PLTD Malabar. Berhubung jalurnya cukup rusak da sempit, ditambah lagi jalur berikutnya adalah jalan di tengah kebun teh, saya dan suami memutuskan untuk menunggu Aria dan Mitra ke Jembayan Siphon. Sambil menunggu, kami memutuskan untuk istirahat di sebuah lapangan sepakbola tidka jauh dari persimpangan.

Lapangan Bunikasih namanya. Lapangan yang sama dengan kegiatan jurusan jamaan masih kuliah pada 2009 lalu. Cukup lama saya dan suami nunggu yang ke Siphon dan berhubung sudah mulai gerimis, saya pun menghubungi Mitra. Ternyata, mereka berdua sudah ada di persimpangan dekat Makam Bosscha. Saya dan suami pun buru-buru membereskan barang bawaaan dan segera tancap gas ke persimpangan.

Mereka kira, saya dan suami menunggu di kebun teh sekitaran Makam Boscha. Tujuan kami berikutnya yaitu Situ Ninah/Situ Datar Batu yang berada di Kebun Pasir Malang, Desa Margaluyu, Kecamatan Pangalengan, Kabupaten Bandung. Ternyata Aria dan Mitra belum berhasil sampai di Jembatan Siphon/ Tjikuningan. Jalur yang dilewati kurang jelas dan cukup rusak, ditambah hari yang sudah semakin sore, akhirnya mereka berdua memutuskan untuk balik kanan. Kami segera belok ke jalur menuju Situ Ninah.

Kondisi jalannya cukup baik, yang melintas di jalur ini lebih sedikit dibandingkan yang melintas di jalur utama Perkebunan Malabar. Ketika hampir sampai di persimpangan menuju objek wisata Bukit Nini, hujan deras tiba-tiba turun. Kami berhenti sebentar untuk memakai jas ujan. Selama memakai jas hujan, ternyata hujan semakin mengecil. Sampai akhirnya ketika selesai memakai jas hujan, hujan malah berhenti. Karena takut tiba-tiba hujan lagi, kami pun tanpa melepas kembali jas hujan.

Kondisi jalan berkelok-kelok dan berada di kebun teh. Pemandangan di kanan cukup terbuka dan Situ Cipanunjang terlihat cukup jelas sepanjang perjalanan. Jalur yang kami lalui ini akan bertemu dengan Jalan Gunung Cupu yang menjadi jalan penghubung utama antara Kebun Malabar dengan Kebun Pasir Malang. Kami sempat berhenti untuk mengambil foto Situ Cipanunjang dari jalur Gunung Cupu.

Kami tiba di Situ Ninah. Posisi Situ Ninah berada lebih rendah dari jalan raya, sehingga untuk menuju Situ Ninah masih harus berjalan kaki sedikit. Karena sudah sore dan kabut tebal sudah mulai turun, kami hanya mengambil sedikit foto Situ Ninah dari pinggir jalan raya. Jalur pulang yang kami pilih addalah yang menuju DAM Cipanunjang. Kami pun putar arah lagi menuju gapura Desa Margaluyu.

Kondisi jalan masih tetap baik. Kali ini, jalur yang kami lewati lebih banyak melewati permukiman. Kami tiba di DAM Cipanunjang sekitar pukul 17.30 WIB. Kami hanya berhenti sebentar, karena sudah mulai gelap. Jalur pulang kami berikutnya adalah yang tembus di dekat Situ Cileunca. Ini pertama kalinya saya menyusuri jalur ini, dan ternyata jalur yang kami lalui hari ini hampir setengahnya mengelilingi Kecamatan Pangalengan.

Jalan pulang menuju Bundaran Pangalengan cukup ramai, bahkan sempat macet cukup parah di bundaran. Ternyata kemacetan disebabkan karena banyaknya mobil yang berhenti di pusat oleh-oleh dan beberapa rumah makan di sepanjang jalur Pangalengan – Banjaran. Mendekati Cimaung, jalan kembali ramai. Bahkan, ketika di Cimaung, kemacetan menjadi semakin parah. Cukup susah payah kami menerobos kemacetan malam ini. Kami pisah di SPBU Banjaran, tepat setelah persimpangan Banjaran – Soreang – Cimaung.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s