PERJALANAN CAHAYA KAMPUNG CITANGKIL 20-21 MEI 2017

SABTU, 20 MEI 2017

Sabtu dini hari, akhirnya dua teman saya dari Jakarta, Mascup dan Hari sampai di lokasi tikum Tim Bandung. Sudah ada Mang Ading yang bareng dengan mereka. Kami berhenti sejenak di sebuah mini market besar di Jalan Sukarno-Hatta Bandung. Belanja logistik, tarik uang tunai, dan tidak lupa menelepon Sista dan Dimas yang nanti akan bertemu di Nagreg. Kami berenam akan mengikuti kegiatan Perjalanan Cahaya di Tasikmalaya. Waktu kumpul sebelum menuju lokasi kegiatan adalah Sabtu, 20 Mei 2017 di belakang Koramil Cipatujah 08.00 WIB. Masih ada sisa waktu tujuh jam sebelum waktu kumpul yang ditentukan.

Kami berempat meluncur ke Nagreg. Perjalanan sangat lancar karena kami berangkat tepat pukul 00.30 WIB. Kami pun bertemu Sista dan Dimas dan langsung meluncur menuju Kota Garut. Jalur yang akan kami tempuh yaitu melalui Kota Garut – Cilawu – Salawu – Puspahiang – Taraju – Sodonghilir – Bantarkalong – Pamijahan – Karangnunggal – Cipatujah. Sebelumnya saya meminta informasi mengenai jalur yang akan saya lewati pada teman saya yang berdomisili di Tasikmalaya, Gunawan. Menurut dia, jalur Puspahiang – Sodonghilir yang akan kami lewati cukup aman, hanya saja, jarak antar motor jangan terlalu jauh.

Ini kali kedua saya lewat jalur Puspahiang – Sodonghilir, namun ini yang pertama kalinya saya melintas di jalur ini malam hari. Sedikit informasi, jalur selepas Kota Garut, tepatnya memasuki Kecamatan Cilawu hingga Kecamatan Bantarkalong akan sangat sepi dan gelap. Pagi hingga sore saja, jalur ini memang cukup sepi, terlebih jika malam hari. Memasuki Kecamatan Kadungora, jalanan sangat sepi, tapi sayang, menurut saya, kami berjalan terlalu pelan. Setiba di jalur menuju Kecamatan Cilawu, saya baru sadar, bensin motor saya sudah tinggal satu liter. Sudah pasti tidak akan cukup sampai di SPBU Salawu.

Seingat saya, ada satu SPBU terakhir di jalur ini sebelum memasuki Kecamatan Cilawu. Makin lama, jalanan semakin menanjak, SPBU yang saya cari tidak ada. PLN Garut, Polsek Cilawu, hingga akhirnya udara pun semakin dingin. Fix, SPBU yang saya cari tidak ketemu. Solusi pertama adalah sampai dulu di pasar yang saya lupa nama daerahnya, tapi masih di Kecamatan Cilawu. Saya pun menggantikan posisi Mascup yang sebelumnya membonceng saya karena kedinginan. Maklum saja, udara Jakarta dengan udara Cilawu dini hari seperti ini memang bedanya cukup ekstrim. Kali ini saya yang bawa motor agar lebih cepat sampai di tujuan.

Jalur Cilawu – Salawu ini sangat gelap, saya yang berada di posisi paling depan malah takut sendiri. Bukan takut karena tidak bisa membaca tikungan ataupun tanjakan/turunan, tapi takut kalau tiba-tiba ada yang menyeberang jalan. Akhirnya kami sampai di pasar yang saya maksud. Saya pun bertanya pada beberapa warga. Menurut informasi, sudah tidak ada penjual bensin eceran yang buka di depan. Kami malah diberi info bahwa tempat jual bensin eceran yang masih buka sudah terlewat, tapi memang harus membangunkan pemilik rumah. Saya pun meminta tolong bapak tersebut mengantar ke penjuak bensin eceran yang dimaksud.

Tempat jual bensin eceran tidak terlalu jauh. Setiba disana, bapak tadi pun menggedor pintu rumah dan akhirnya motor saya pun selamat dari ancaman mogok gara-gara bensin habis. Saya isi langsung tiga liter karena bapak ini bilang kalau SPBU Salawu kalau malam begini tutup. Saya ragu juga sih, setau saya, SPBU itu satu-satunya di jalur utama lintas Kabupaten, dan banyak juga truk dan ELF yang sering numpang istirahat disana. Daripada beneran tutup, sekaligus saja saya isi tiga liter. Urusan bensin selesai, kami pun melanjutkan perjalanan menuju Salawu.

Kami tiba di SPBU Salawu sekitar pukul 02.00 WIB. Ternyata SPBU Salawu buka, bahkan sudah banyak yang tidur atau sekedar beristirhat disini. Kami pun istirahat sejenak. 02.30 WIB kami melanjutkan perjalanan. Perkiraan saya, mungkin jam 06.00 WIB kami sudah bisa sampai di tikum Cipatujah. Kali ini saya kembali dibonceng Mascup. Setiba di Warung Peuteuy, kami belok menuju arah Puspahiang. Jalur ini kalau malam hari banyak kucing liar berkeliaran, jadi meskipun jalannya sepi, tetap harus berhati-hati. Tidak jauh dari persimpangan Warung Peuteuy, jalur menjadi lebih gelap dibanding sebelumnya. Kondisi jalan akan banyak berlubang hingga memasuki Kecamatan Puspahiang.

Kami berjalan cukup pelan. Selain medan yang ditempuh masih asing bagi sebagian besar rombongan, minimnya penerangan dan jalan berlubang pun harus sangat diwaspadai. Sampailah kami di persimpangan Puspahiang menuju Taraju dan Cikalong. Kami langsung ambil jalur menurun menuju Cikalong. Medan jalan lebih banyak didominasi turunan dan masih tetap menyusuri kebun-kebun. Tidak lama setelah meninggalkan persimpangan, ban belakang saya kempes. Saya pun pindah dibonceng Mang Ading. Setidaknya sampai kami tiba di pusat Kecamatan Sodonghilir.

Tepat pukul 04.30 WIB kami tiba di alun-alun Kecamatan Sodonghilir. Molor banyak dari perhitungan waktu awal saya. Setelah Solat Subuh, saya, Mang Ading, dan Mascup langsung menuju tukang tambal ban yang masih tutup. Menurut info dari warga yang saya tanya di Masjid, kalau belum buka, diketok saja, karena tempat tambal bannya menyatu dengan rumah. Cukup lama kami mengetuk pintu tempat tambal ban sampai akhirnya kami bertemu seorang bapak. Langsung saja saya cegat dan menanyakan tambal lain.

Menurut bapak ini, ada satu tambal ban lagi di depan, tetapi setelah dicek, ternyata pemilik tambal bannya sedang tidak ada di rumah, sedang pergi memancing katanya. Mau tidak mau kami kembali mengetuk tambal ban yang pertama kami datangi ini. Sekitar pukul 06.30 WIB barulah tambal bannya buka. Mata sudah mulai perih karena menahan kantuk. Beberapa teman bahkan sempat tertidur menunggu proses tambal ban. Pukul 06.00 WIB kami melanjutkan perjalanan. Jalanan didepan kami masih mulus tetapi ada sekitar 1-2 Km yang jalannya jelek. Aspal mengelupas dan digantikan batu-batu harus kami lalui hingga tiba di Kampung Cipicung.

Baru saja sebentar melewati jalan berbatu, tiba-tiba motor yang saya tumpangi jatuh. Kaca spion kiri pun sukses pecah dan kaca spion kanan bertambah retaknya. Akhirnya saya memutuskan biar saya lagi saja yang bawa motornya, mungkin teman saya sudah cape. Saya langsung tancap gas melahap tanjakan berbatu yang lumayan panjang ini. Setiba di ujung tanjakan, kami atur kembali posisi motor. Tanpa buang waktu, kami langsung tancap gas. Jalanan di depan kami kembali mulus meksipun masih berkelok-kelok dan masih berada di area kebun/hutan. Di sisi kanan kami jurang cukup dalam dengan pemandangan perbukitan Selatan Tasikmalaya mengikuti perjalan kami.

Kami tiba di persimpangan. Satu jalur menurun dan menikung tajam di sisi kiri kami dan satu jalur lagi terus mengikuti jalan utama. Di depan kami terdapat gapura yang menandakan bahwa kami sudah memasuki wilayah administrasi Kecamatan Bantarkalong. Untungnya ada mobil warga yang melintas. Saya pun bertanya jalur. Bapak di mobil menyuruh kami mengikuti mobilnya karena tujuannya pun sama, Karangnunggal. Kami pun melanjutkan perjalanan. Jalan yang kami lewati kali ini sangat baik kondisinya. Medan berupa turunan panjang dan jalan berkelok menjadi ‘sarapan’ kami pagi ini.

Setelah beberapa lama, motor terasa goyang. Masa iya ban belakang yang baru ditambal bocor lagi. Tapi sepertinya hanya kurang angin karena tidak terlalu parah. Saya pun memaksakan terus jalan, setidaknya sampai di persimangan dengan jalan raya utama Karangnunggal – Cipatujah. Cukup jauh kami mengikuti mobil warga tersebut, sampai akhirnya di satu warung, saya melihat dua motor dengan pengendara yang tidak asing. Ternyata Om Arif dan Om Dany. Dua teman yang juga akan mengikuti kegiatan Perjalanan Cahaya dari Jakarta. Kami pun berhenti di warung dan bergabung dengan Om Arif dan Om Dany.

Saya pun meminta tolong Mascup mencari tambal ban untuk isi angin ban depan yang ternyata sudah cukup kempes. Sekitar lima belas menit kami berhenti di warung, kami pun melanjutkan perjalanan. Om Arif dan Om Dany di depan, kemudian saya, Hari, Dimas, dan Mang Ading. Kami Om Arif dan Om Dany langsung tancap gas, saya pun mengikuti. Jarak saya dengan Om Arif tidak terlalu jauh, tapi ternyata, dua motor di belakang ketinggalan jauh. Akhirnya saya memutuskan untuk menunggu, sementara Hari tetap menempel Om Dany dan Om Arif. Setelah dua motor di belakang kumplit, kami kembali jalan.

Sampailah kami di Simpang Pamijahan, dan kami pun langsung masuk ke jalur utama Karangnunggal – Cipatujah. Hari sudah menunggu kami, sementara dua motor di depan sudah menghilang jauh di depan. Kami sedikit kencang melaju di jalur ini karena sudah di jalan utama, jadi hanya tinggal mengikuti jalan saja. Saya pun kembali mampir di tambal ban karena ban depan terasa kempes lagi. Jalur memasuki area hutan karet, artinya sudah hampir tiba di tikum. Setelah tancap gas non stop, akhirnya tepat 07.55 WIB kami tiba di persimpangan Koramil Cipatujah. Saya sempat menanyakan posisi di grup tapi tidak ada yang menjawab. Mang Ading sempat dua kali mengecek ke dalam tetapi katanya tidak ketemu rombongan lain.

Akhirnya kami bersama-sama jalan menuju koordinat tikum, siapa tahu masih ada. Ternyata rombongan masih ada. Setelah menyapa teman-teman di tikum, kami semua bersiap untuk memulai perjalanan yang sebenarnya. Sebelum menuju jalur Desa Pameutingan, kami mampir dulu di mini market, SPBU, dan tidak lupa saya pun mampir ke tambal ban lagi untuk memperbaiki ban belakang yang ternyata tidak benar masangnya. Setelah semua urusan beres, kami pun berangkat menuju lokasi. Kali ini saya kembali dibonceng.

Jalur yang kami lalui yaitu Cipatujah – Ciheras – Desa Pameutingan. Sudah dapat ditebak, jalan aspal hanya sampai di pusat Desa Pameutingan. Selebihnya merupakan makadam. Berhubung sudah jarang hujan, jalan yang kami lalui cukup berdebu. Jalur beberapa kali masuk ke area perkebunan, sehingga tidak terlalu terik. Medan yang kami lalui lebih banyak turunan. Kami sempat berhenti di pinggir lapangan sebuah sekolah. Saya kira, kami sudah sampai di tujuan, ternyata ada beberapa warga Kampung Citangkil yang menjemput kami.

Jalan yang kami ambil tiba-tiba belok dan langsung menanjak panjang. Akhirnya saya kembali membawa motor dan Mascup sementara pindah motor ke motor Mang Jaja. Jalan yang kami lalui lebarnya hanya sedikit lebih besar dari jalan setapak dan perkerasannya semen. Setidaknya bukan batu seperti sebelumnya. Jalan terus menanjak sampai akhirnya di depan banyak teman-teman lainnya yang berhenti dan menyuruh saya untuk berhenti juga. Karena penasaran, saya pun mendekat. Ternyata jalur di depan saya cukup sadis.

Tikungan tajam dipadukan dengan tanjakan terjal dan panjang harus kami lalui. Di tengah tanjakan ada satu moto yang mesinnya mati. Beberapa teman sudah membantu. Salah sedikti posisi berhenti disini bisa langsung masuk jurang yang menganga tepat di belakang kami. Kami sudah berada di lereng perbukitan dan jalur cukup terbuka. Dasar jurang yang berupa aliran sungai tidak terlihat saking tingginya posisi kami sekarang. Akhirnya motor saya serahkan untuk dibawa oleh Mas Marul dan saya sendiri treking di tanjakan ini. Selepas tanjakan, kembali saya yang membawa motor, karena jalur di depan pun masih menanjak. Kali ini jalur berubah dari semen jadi tanah merah padat.

Setelah melewati beberapa turunan dan tanjakan yang tidak terlalu berat, saya pun kembali dibonceng. Kami bertemu Pa Harun, warga Citangkil yang menjemput kami. Pa Harun mengarahkan jalan yang harus kami ambil. Bukan terus mengikuti jalan tanah yang cukup besar, tetapi belok ke kiri menyusur jalan tanah yang hanya selebar jalan setapak. Jalan sesekali menanjak. Jalan tanah yang kami lewati tidak rata, ada beberapa bekas jalur ban sehingga harus berhati-hati agar tidak terperosok. Akhirnya saya kembali harus treking karena medan tanjakan di depan yang tidak memungkinkan dilewati jika boncengan.

Tiba di ujung tanjakan, kami istiraht dulu. Motor kembali saya yang bawa sementara Mascup treking. Sampai akhirnya bertemu turunan panjang. Karena ragu, akhirnya saya meneyrahkan motor saya ke teman yang di belakang dan saya dbonceng motor satunya lagi. Setelah lewat turunan dan beberapa tanjakan dengan jalan yang semakin menyempit, kami akhirnya berhenti dan menunggu tiga teman yang masih di bawah. Lokasi kami berhenti ternyata tidak jauh dari Kampung Citangkil. Setelah melewati turunan panjang tepat di depan kami, sampailah kami di lokasi kegiatan.

Kelapa muda dan aneka makanan ringan sudah menyambut. Saya yang sudah mulai pusing karena menahan ngantuk segera tiduran di hammock sambil menunggu teman-teman lainnya unpacking komponen-komponen. Setelah semua barang donasi dan komponen panel surya diturunkan dari motor, warga pun segera berkumpul. Beberapa voluntriders menjelaskan mengenai fungsi masing-masing komponen hingga cara perakitan. Tujuannya agar pemasangan panel surya sebanyak 15 set dapat dikerjakan bersama-sama untuk menghemat waktu. Sambil menunggu teman-teman lain merakit dan memasang instalasi, saya dan voluntriders mempersiapkan tas dan alat tulis untuk anak-anak Kampung Citangkil.

Liwet khas Kampung Citangkil pun siap disajikan. Makan siang ternikmat setelah semalam suntuk melahap jalur Tasikamalya Selatan dan jalur Citangkil yang menguras tenaga. Selesai makan, saya, Bunda Ucu, dan Sista menumpang solat di salah satu rumah warga. Ada yang unik di Kampung Citangkil. Untuk kebutuhan air, memang masih menimba dari sumur. Hanya saja, kali ini yang kami timba airnya langsung, bukan menimba ember untuk diisi air pada umumnya. Kami hanya cukup menggerakan tambang yang jika pada sumur biasa berfungsi untuk menurunkan ember ke dalam sumur. Tambang akan berputar dan air akan terpompa naik ke pipa paralon yang langsung disambungkan ke bak penampungan air di mck. Jadi tidak usah berat-berat membawa air dari sumur ke mck.

Setelah solat, mata rasanya sudah tidak bisa diajak kompromi. Saya, Bunda Ucu, dan Sista langsung tidur pulas di rumah warga. Sekitar pukul 16.00 WIB, saya terbangun. Lumayan, tidur dua jam yang berkualitas. Bunda Ucu sudah tidak ada, begitu juga ibu dan anak pemilik rumah yang saya tumpangi tidur ini. Hanya ada Kang Rama dan dua teman lainnya yang beres memasang instalasi panel surya. Setelah nyawa terkumpul, kami kembali ke tempat kami memarkirkan motor. Ternyata kegiatan untuk anak-anak sudah dimulai. Meskipun anak-anak usia SD di Kampung Citangkil ini sedikit, tetapi semangatnya tidak kalah dengan anak-anak di kampung lainnya.

Kami semua dipersilahkan untuk beristirahat di rumah Pak Harun. Rumah Pak Harun juga merupakan tempat anak-anak di Kampung Citangkil bersekolah. Sebagian dari kami tidur di atas hammock, sebagian lagi di dalam rumah. Kegiatan hari ini ditutup dengan makan malam nasi liwet, sayur mayur, dan ayam bakar khas Kampung Citangkil. Karena sudah memasuki musim kemarau, udara malam hari cukup dingin, bahkan angin bertiup cukup kencang, ditambah nyamuk yang sangat banyak dan cukup mengganggu.

MINGGU, 21 MEI 2017

Pukul 06.00 WIB kami sudah disuguhi sarapan dan sebagian dari kami mulai berkemas kembali. Sebelum pulang, tidak lupa seluruh voluntriders berfoto bersama warga. Kami memulai perjalanan pulang sekitar pukul 07.00 WIB. Jalur yang kami tempuh kali ini berbeda dengan jalur datang sebelumnya. Kali ini kami mengambil jalur yang nantinya akan langsung tembus ke Kecamatan Bojonggambir lalu Kecamatan Taraju. Jalur ini sangat menyingkat waktu perjalanan, karena kami tidak harus turun lagi ke arah pantai kemudian naik lagi ke Utara.

Jalan tanah merah masih menjadi medan yang harus kami lewati. Kami sempat salah jalan. Untungnya kami bertemu warga Kampung Citangkil dan akhirnya kami menuju arah yang benar. Jalan yang harusnya kami lewati ternyata jalur yang menanjak panjang ke arah kanan tepat di pertigaan. Sementara kami ke arah kiri di pertigaan tersebut. Satu persatu motor menaiki tanjakan dan tiba motor saya. Saya kembali dibonceng. Di tengah tanjakan, tiba-tiba motor kembali jatuh. Kali ini step depan bengkok. Akhirnya kembali saya yang membawa motor. Sampai di ujung tanjakan, jalan kembali bertemu turunan panjang sekaligus tikungan. Akhirnya saya menyerahkan kembali motor ke Mascup dan saya pindah ke motor Mang Jaja.

Jalan sedikit demi sedikit mulai melebar. Tanah merah pun sudah sedikit bercampur batu. Sepertinya jalur tanah akan segera berakhir. Benar saja, akhirnya jalan yang kami lewati kembali bertemu permukiman warga dan jalan berubah menjadi makadam. Selepas permukiman pertama, jalan berubah menjadi aspal. Kami langung tancap gas. Setelah melewati dua kampung, jalan kembali berubah menjadi makadam. Kali ini, begitu jalan aspal habis, kami langsung disuguhi jalan berbatu yang menanjak cukup panjang dan curam. Jalan berubah menjadi makadam, kemudian aspal, makadam lagi, aspal lagi hingga memasuki area kebun teh. Area kebun teh sudah berada di wilayah Kecamatan Bojonggambir.

Memasuki area kebun teh, jalur berada di puncak punggungan perbukitan. Pemandangan di sekeliling jalur terlihat jelas. Gunung Cikuray pun terlihat jelas dan bersih di kejauhan. Kami sempat berhenti sejenak untuk mengambil foto. Saya sempat mencoba membawa motor lagi. Ternyata, motor tidak bisa oper dari gigi 2 ke 3, begitu pun sebaliknya. Ternyata, gara-gara jatuh tadi, step bengkok dan pedal gigi seidkit nyangkut. Untung masih bisa dibetulkan secara manual. Akhirnya motor kembali saya serahkan untuk dibawa Mascup dan saya kembali dibonceng Mang Jaja.

Tidak jauh dari lokasi kami berhenti, jalan kembali berbatu dan menurun. Bahkan kami menemui dua tanjakan panjang dan curam serta berbatu. Hampir saja motor Mang Jaja tidak kuat. Untungnya dengan skill Mang Jaja yang sudah tidak diragukan lagi, semua tanjakan berat yang kami temui, saya tidak perlu sampai turun dari motor. Padahal motor Mang Jaja motor matic. Salut. Luar biasa. Jalur terus menyusuri puncak punggungan perbukitan hingga bertemu permukiman. Kami sempat berhenti dulu membeli minum.

Berhubung hp saya mati dan baru dinyalakan ketika berhenti membeli minum, saya baru ngeh jalur yang baru kami lewati ini berseberangan dengan jalur yang pernah saya lewati ketika ke Talaga Denuh pertama kali di awal 2014. Pantas saja pemandangan dan kondisi jalannya sedikit tidak asing. Setelah warung tempat kami berhenti, kami bertemu satu tanjakan panjang sekaligus menikung yang pada saat kami lewat cukup ramai. Selepas tanjakan, barulah jalan kembali beraspal. Ternyata beberapa teman kami yang sudah duluan sampai menunggu kami di warung  tepat di ujung jalan. Ujung jalan yang kami lalui merupakan pertigaan menuju Taraju dan Pedangkamulyan.

Kami masuk kembali ke jalur utama Taraju. Kali ini jalan yang akan kami lalui sudah dalam kondisi sangat baik. Jalur yang sudah tidak asing lagi ini membawa kami menuju Puspahiang. Sebelum pulang, kami mampir terlebih dahulu ke rumah mertua Kang Ogi di Puspahiang untuk makan siang. Hidangan makan siang ternikmat hari ini setelah menempuh jalan tanah dan jalan batu. Pukul 12.00 WIB satu per satu mulai berpamitan karena jalan pulang kami masih cukup jauh. Ada dua orang yang menuju Yogyakarta, tiga orang menuju Indramayu, sisanya menuju Sumedang, Purwakarta, Karawang, Bandung, dan Jakarta.

Perjalanan pulang sedikit terhambat selepas Kota Garut. Kemacetan masih belum terlalu parah. Kami terjebak macet parah di Rancaekek hingga persimpangan dengan GT Cileunyi. Selebihnya jalanan masih sepi. Saya tiba di kembali di rumah pukul 16.oo WIB.

Terimakasih kepada seluruh voluntriders yang ikut dalam kegiatan pemasangan panel surya di Kampung Citangkil, Desa Pameutingan, Kabupaten Tasikmalaya. Jawa Barat. Terimakasih juga untuk Amih Nenden makan siangnya. Terimakasih juga untuk teman-teman yang sudah boncengin saya dan bawain motor saya selama di perjalanan.

Foto-foto merupakan hasil dokumentasi pribadi dan dari beberpa voluntriders yang ikut berpartisipasi

Om Arief Tdour

Bunda Uncu

Mang Ading

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s